Poros Maritim dan Nasib Nelayan

Jakarta, 26 Agustus 2015 – Poros maritim sejatinya adalah upaya sadar bangsa ini untuk menggerakan sektor maritim untuk menjadi daya dorong pembangunan nasional. Mengingat cakupan dan ruang lingkup sektor maritim yang begitu luas, maka memilih segmentasi dan prioritas program pembangunan yang merupakan hajat hidup orang banyak merupakan kriteria yang perlu dikedepankan. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah sektor perikanan dengan nelayan sebagai konstituen utama. Paradoks data dan fakta Menurut data yang ada, pelaksanaan pembangunan yang terfokus pada kelompok nelayan dalam kurun waktu 2010-2014 mulai memperlihatkan hasil yang nyata. Dalam kurun waktu tersebut terjadi peningkatan nilai produksi perikanan sebesar 14,5%/tahun dari Rp 64,54 triliun pada tahun 2010 meningkat menjadi Rp 108,53 triliun pada akhir 2014 lalu. Begitu juga halnya dengan volume produksi yang mengalami peningkatan rata-rata sebesar 3,6%/tahun dari 5,58 juta ton pada tahun 2010, meningkat menjadi 6,20 juta ton pada tahun 2014. Sementara itu, pendapatan nelayan secara nasional meningkat dari Rp4,06 juta/rumah tangga perikanan tahun 2010 menjadi Rp4,87/ rumah tangga perikanan tahun 2014 (KKP. 2014). Melihat hal tersebut, harapan dan optimisme kemudian tidak salah kita munculkan sebab data diatas kertas menunjukan trend dan perkembangan yang positif terhadap sektor ini. Namun demikian peningkatan produksi perikanan tangkap diatas kini dihadapkan pada kondisi overfishing dan eksploitasi penuh disebagian Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP). Tiga dari sebelas (WPP), diantaranya sudah mengalami overfishing, melebihi tangkapan lestari (MSY) sebesar 6,52 juta ton per tahun yaitu di WPP 571 (Selat Malaka dan Laut Andaman), 573 (Samudera Hindia B/Selatan Jawa-Laut Timor Barat), dan 714 (Teluk Tolo dan Laut Banda). Sementara itu, dua WPP lainnya sudah mengalami fully exploited yaitu pada WPP 572 (Samudera Hindia A/Barat Sumatera dan...

40% Mangrove Indonesia, Hilang!

Jurnal internasioanl Nature Climate Change edisi terbaru (27 Juli 2015) mempublikasikan artikel Prof. Daniel Murdiyarso et al dengan judul the Potential of Indonesian Mangrove Forest for Global Climate Change Mitigation. Artikel tersebut memuat data-data ilmiah terbaru terkait kondisi hutan mangrove dan blue carbon Indonesia. Menurut artikel ini, Indonesia telah kehilangan hutan mangrove sebesar 40% dalam tiga dekade terakhir dimana penyebab utamanya adalah konversi mangrove menjadi lahan tambak yang mencapai 0,65 juta hektar selama periode tahun 1997-2005. Kehilangan mangrove tersebut menghasilkan emisi blue carbon sebesar 0,07-0,21 Pg CO2e, sementara potensi stok karbon pada hutan mangrove sebesar 3,14 PgC. Pertanyaanya, apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kehilangan hutan mangrove Indonesia? Konversi vs Proteksi Mangrove Konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak tentu memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat dan negara. Nilai produksi perikanan dari budidaya tambak tahun 2013 hampir mencapai Rp 15 triliun. Tapi di sisi lain, konversi atau pembabatan hutan mangrove menyebabkan Indonesia kehilangan hutan mangrove yang sangat penting bagi lingkungan dan keanekaragaman hayati. Mangrove memiliki peran penting dalam stabilisasi garis pantai, memelihara kualitas air, melindungi pantai dari ombak dan tsunami, mengatur iklim, mendukung kehidupan spesies, dan sebagainya. Konflik antara ekonomi dan lingkungan seperti ini bukan merupakan isu baru dan bukan khas Indonesia, melainkan sudah berlangsung sejak lama dan terjadi di berbagai negara. Pertentangan panjang antara pemanfaatan dan perlindungan sumber daya alam dalam perkembangannya melahirkan konsep konservasi, yaitu pemanfaatan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kebaikan bagi sebanyak-banyaknya orang untuk waktu yang sepanjang-panjangnya. Konsep konservasi tersebut memiliki kemiripan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang dikembangkan oleh World Commission on Environment and Development tahun 1987. Menurut komisi ini, pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan...