Iwan Sandeq, tentang Ekspedisi Menggunakan Pinisi

Iwan Sandeq, tentang Ekspedisi Menggunakan Pinisi

Jakarta, ISKINDO – Muhammad Ridwan ‘Iwan Sandeq’ Alimuddin adalah pegiat literasi Armada Pustaka Mandar yang pernah diundang Presiden Jokowi. Dia pun peserta ekspedisi fenomenal, Ekspedisi Garis Depan Nusantara yang diselenggarakan 2008 hingga 2010. Kamaruddin Azis dari ISKINDO menemuinya di kediaman perintis Pustaka Bergerak Indonesia, Nirwan Ahmad Arsuka untuk mendengar ceritanya terkait ekspedisi itu, (07/09). Ekspedisi itu merekam denyut dan napas 92 pulau-pulau kecil terluar Indonesia. Sukses mencatat kekhasan, keunggulan potensi sumber daya alam, ketangguhan sosial ekonomi dan juga perihal tantangannya. Tujuan hakiki ekspedisi itu adalah membangun kembali kesadaran budaya maritim yang selama ini terabaikan. Ridwan yang pernah kuliah di Jurusan Perikanan UGM ini tertarik ikut pada ekspedisi itu karena berhasrat besar melihat realitas pulau-pulau terluar dan mendokumentasikannya ke dalam buku. Masukan Ridwan tentang ekspedisi menggunakan kapal khas asal Sulawesi Selatan itu dirasa penting sebab dalam waktu dekat ekspedisi yang lebih menantang juga akan digelar. Namanya Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa. Event yang diinisiasi Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) dan Yayasan Makassar Skalia (YMS). Ekspedisi dimaksud akan digelar resmi pada Oktober 2018 dan juga didasarkan pada realitas pesisir dan pulau-pulau Nusantara meski akan diberi penekanan pada pentingnya merajut Indonesia melalui sinergi, bukti dan bakti para pemangku kepentingan di usia Kemerdekaan yang akan memasuki usia 74 tahun. Sebanyak 74 titik akan dikunjungi. Merefleksikan usia ulang tahun Kemerdekaan NKRI di 2019. Juga akan meng-update kondisi pesisir dan pulau-pulau tersebut. Mendokumentasikan realitas dan isunya, berbagi inspirasi, kreasi dan bantuan untuk masyarakat di pesisir yang dikunjungi. Sebuah upaya memperkuat kesadaran kolektif sebagai anak bangsa atas potensi dan peluangnya di tengah derap modernisasi dan industrialisasi yang mungkin saja telah jauh ke pulau-pulau kecil terluar. Tentang ekspedisi pinisi Menurut...
Palung Kematian: Pengakuan Para Mantan Pembius Ikan di Selayar

Palung Kematian: Pengakuan Para Mantan Pembius Ikan di Selayar

Jakarta, ISKINDO – Kamaruddin Azis, ketua Bidang Komunikasi, Organisasi dan Ketenagakerjaan DPP ISKINDO bertandang ke kawasan Taman Nasional Taka Bonerate bersama tim Biorock Indonesia dan UNDP Indonesia, (4-6 Juni 2018). Kepada pembaca sekalian, dia membagikan pengalaman para mantan pelaku destructive fishing  — momok bagi kawasan konservasi seluas tidak kurang 200 ribu hektar, di tengah Laut Flores ini. Berikut laporannya. *** Di pertengahan tahun 90-an, kawasan Taka Bonerate adalah surga bagi pembius ikan. Kala itu, kapal-kapal asal Hongkong wara-wiri menyapu perairan atol ketiga terbesar di dunia itu dan menjadi ‘collecting vessel’ untuk ikan-ikan hidup seperti kerapu sunu, Napoleon, lobster. Di tahun-tahun tersebut, hampir semua pulau memiliki tidak kurang 3-5 keramba tampung. Di sinilah para pembius berkedok nelayan pancing dan bubu tindis menjual ikan tangkapannya. Berton-ton ikan hidup dibawa ke luar Selayar, ke Bali, ke Surabaya hingga langsung ke Singapura atau Hongkong. Jika setiap keramba mampu menampung 500 kilo ikan hidup seperti kerapu sunu sebelum dijemput kapal pengangkut, dikirim sebanyak dua kali sebulan maka sekurangnya, 1,5 ton ikan perkeramba, atau 4,5 ton perpulau. Jika ada 5 pulau yang memiliki keramba katakanlah 3 unit maka setiap bulan ada 13,5 ton ikan hidup yang diboyong keluar Selayar. Nilai jual ikan ini di pulau dibanderol Rp. 200 ribu kala itu. Jika ini ditotal maka nilai jual ikan kerapu perbulan dalam kawasan Taka Bonerate sebesar Rp. 27 miliar! Bayangkan nilainya jika ini termasuk pulau-pulau di sekitar Taka Bonerate seperti Bonerate, Jampea, Karompa, Kayuadi hingga Pulau Madu! Nilai ekonomi seperti inilah yang menggoda selera melaut, memancing dan menyelam para nelayan di dalam Taka Bonerate. Yang mengundang selera nelayan-nelayan dari pesisir dan pulau-pulau Makassar, Takalar, Sinjai untuk datang...
Seruan Pakar ISKINDO di Konferensi Terumbu Karang Asia Pasifik ke-4

Seruan Pakar ISKINDO di Konferensi Terumbu Karang Asia Pasifik ke-4

Jakarta – ISKINDO. Keberlanjutan ekosistem terumbu karang Indonesia berada pada titik mengkhawatirkan. Beragam ancaman menjadi penyebabnya, karenanya dibutuhkan solusi dan pendekatan multidisiplin. Hal tersebut mengemuka pada International Conference 4th Asia Pacific Coral Reef Symposium (APCRS) yang berlangsung pada tanggal 4-8 Juni 2018 di Cebu, Filipina. Berikut laporannya. *** Pada konferensi tersebut, La Ode Muh. Yasir Haya, Ph.D, pakar kelautan Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) yang juga dosen Ilmu Kelautan, FPIK Universitas Halu Oleo, Sulawesi Tenggara menyerukan perlunya perhatian pada ancaman dan dimensi terumbu karang di forum bergengsi tersebut. Dia memaparkan ragam implikasi serta menyerukan kepada stakeholders internasional tentang perlunya solusi pada tata kelola terumbu karang yang lebih baik bagi Indonesia. Di hadapan ratusan peneliti, mahasiswa, praktisi dan pemerhati terumbu karang yang hadir, Yasir menyebut bahwa laju degradasi terumbu karang di Indonesia terus menerus meningkat dan perlu diwaspadai. Dia mencontohkan kondisi terumbu karang di Kepulauan Spermonde terutama di Kabupaten Pangkaje’ne Kepulauan, Sulawesi Selatan. “Degradasi setiap tahunnya diperkirakan sebesar 174 ha sejak tahun 1990-an hingga saat ini dengan nilai kerugian ekonomi rata-rata ditaksir sebesar USD 50.2 juta per tahun,” kata Yasir sebagaimana disampaikannya di konferensi tersebut. Padahal, menurut Yaisr, Spermonde merupakan salah satu lokasi COREMAP fase II, sebuah program rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang sejak tahun 1999 namun akar permasalahan serta ancaman terumbu karang belum bisa ditangani dengan baik. Dari hasil penelitian Yasir, ditemukan berbagai sumber ancaman yang sifatnya multi-dimensional threats. “Teridentifikasi 41 jenis ancaman yang menyebabkan penurunan persentase tutupan karang yang berpotensi dan mengganggu kestabilan ekosistem terumbu karang di lautan.  Dari 41 sumber ancaman tersebut, 15 sumber ancaman di antaranya memiliki indeks ancaman tertinggi,” papar Yasir. Dia menyebut beberapa di antaranya adalah pada dimensi...
ISKINDO dan Belantara Foundation Gelar Bimtek Penyusunan ‘Blended Financing’

ISKINDO dan Belantara Foundation Gelar Bimtek Penyusunan ‘Blended Financing’

Jakarta, ISKINDO. ISKINDO berkepentingan dalam meningkatkan kapasitas alumni, sarjana Kelautan dan pihak-pihak yang bekerja pada program-program konservasi. Hal tersebut dibuktikan dengan menggelar bimbingan teknis ‘Penyusunan Blended Financing’ di Jakarta pada 21-22 Mei 2018. Acara dibuka oleh Ketua Harian Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia, M Abdi Suhufan kemudian dilanjutkan dengan presentasi “Potensi blended financing dalam mendanai kegiatan-kegiatan di sektor kelautan perikanan, khususnya terkait pengelolaan sampah” oleh Sri Mariati, Belantara Foundation dan dilanjutkan ke diskusi. Beberapa informasi yang diperoleh dari lokalatih tersebut adalah pentingnya mengidentifikasi Return of Investment dari pelaksanaan kegiatan bagi mitra penyedia dana. Selain, itu, perlunya memanfaatkan kekuatan ISKINDO yaitu ketersediaan ahli kelautan dan sebaran DPW di 16 provinsi. Menurut Sri, untuk identifikasi potensial donor dapat dilakukan berdasarkan data sampah yang ada di lapangan, ataupun pihak lain yang memiliki ketertarikan terhadap lokasi atau isu. Dia juga mengatakan bahwa bentuk pendaanan dapat berupa crowdfunding oleh beberapa pemberi dana, filantrofi oleh satu atau lebih pemberi dana, dan pendanaan untuk institutional. “Tipe dari blended financing dapat berupa co-financing, equity financing, debt financing,” kata Sri. Pada situasi itu, menurut Sri, ISKINDO dapat berperan sebagai penyusun program usulan dan collector dana untuk kemudian melakukan pennyalurkan ke pelaksana. Jenis program yang memiliki value yang beragam mempunyai daya tarik lebih. “Contoh pilot project pembakaran sampah menghasilkan asam cuka untuk pestisida alam/penjernih karet serta pengawet ikan yang dapat digunakan oleh nelayan,” tambahnya. Kunci utama kegiatan adalah logic kegiatan dalam mengidentifikasi sebab-masalah inti- akibat dari isu yang akan diintervensi menjadi goal-outcome-output-activities Usulan kegiatan harus mengidentifikasi siapa yang merasakan akibat secara jelas. “Akar dari masalah yaitu mengapa masalah terjadi harus terang dipaparkan. Justifikasi tentang mengapa penting memecahkan masalah inti perlu...

Pakar ISKINDO Paparkan Isu Perubahan Iklim dan Spesies Invasif di WCMB Montreal

ISKINDO – Periset Kelautan Indonesia dari IPB yang juga anggota Dewan Pakar ISKINDO, Dr. Hawis Madduppa, S.Pi, M.Si menjadi peserta sekaligus pembicara pada forum strategis ‘The World Conference on Marine Biodiversity (WCMB)’ atau Konferensi Dunia atas Biodiversitas Kelautan ke-4 yang berlangsung pada tanggal 13 hingga 16 Mei 2018 di Montreal Kanada. Acara 3 atau 4 tahunan tersebut menghadirkan peneliti kelautan terkemuka dan mendiskusikan beragam isu dan solusi kelautan dunia, merefleksikan hasil-hasil penelitian, praktik pengelolaan serta peran biodiversitas dalam menjamin keberlanjutan ekosistem lautan ke depannya. Tahun ini, beberapa pembicara kunci di antaranya Prof. Emma Johnston, Dean of Science, University of New South Wales, Sydney, Australia, Dr. Lindwood Pendleton dari Global Ocean Lead Scientist untuk  World Wide Fund for Nature hingga Dr. Amanda Bates dari University Research Associate Professor, Memorial University of Newfoundland Konferensi tersebut didukung organisasi kelautan ternama Kanada dan dunia, mulai dari Canadian Healthy Ocean Network hingga organisasi sekelas ‘Konvensi atas Konservasi Spesies Fauna Migratory Alam Bebas’. “Tidak kurang 1.200 peserta hadir. Bukan hanya peneliti atau praktisi tetapi juga pengambil kebijakan level dunia. Ada ragam isu dan solusi di sana,” kata Hawis kepada admin ISKINDO. Dr. Hawis yang juga dosen Kelautan di IPB itu memboyong isu perubahan iklim dan keberlanjutan ekosistem terumbu karang Indonesia. Judul makalahnya, ‘Mengungkap Ledakan  Invasif Spesies Sponge dan Ascidian pada Terumbu Karang di Indonesia dengan Menggunakan Pendekatan Genetik. Judul tersebut membungkus hasil penelitian yang dilakukan oleh tim Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB yang didanai oleh Kementerian Ristek Dikti melalui skema riset Kerjasama Luar Negeri. Tim terdiri dari Hawis Madduppa, Beginer Subhan, Mustami Yuda Sastris, Muhammad Reza Faizal, Nurlita Putri Anggraini, Januarizka S Pratomo serta...

Struktur Dewan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) 2018-2021

Berikut ini adalah struktur Dewan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia Periode 10`8-2021 sesuai SK No. 004/ISKINDO/III/2018. Dewan Penasehat Dr. Indroyono Soesilo, M.Sc Sarwono Kusumaatmadja Ir. Widi A. Pratikto, MSc, Ph.D Chandra Motik Yusuf, SH, M.Sc Sudirman Saad, SH, M.Hum Ir. Safri Burhanuddin, DEA Dr. Ir. Indra Jaya, M.Sc. Dewan Pakar Ketua            : Prof. Dr. Ir. Aras Mulyadi Wakil Ketua    : Dr. Ir. Munasik, M.Sc Sekretaris      : Darwis Ismail, ST, MMA Anggota         : Dr. Muh. Zamrun F, SSi, MSi, M.Sc Agung Damar Syakti, M.Sc Agus.S. Atmadipoera, M.Sc Bagiyo Suwasono, M.Sc Baru Sadarun, S.Pi., M.Si Christofel Rotinsulu, M.Sc Hawis Maduppa, M.Si Muh Lukman, ST, M.Sc La Ode Muhammad Yasir Haya, ST, M.Si, Ph.D Laksma Rahmat Eko Rahardjo, M.Sc Syafiuddin Yusuf, M.Si Surahman, ST Sri Mariati, M.Sc Syarif Budiman, M.Sc Viv Janat Widodo Pranowo, M.Sc Majelis Pertimbangan Organisasi : Hendra Yusran Siry, M.Sc M. Riza Damanik, M.Si Andreas Dipi, M.Si Badaruddin Andi Picunang, ST, MM, MT, MAP Bibit Mugijana, ST N. Gustaf F. Mamangkey, S.Pi, M.Sc Pengurus Inti Ketua Umum: M. Zulficar Mochtar, ST,  M.Sc Ketua Harian: Mph. Abdi Suhufan Wakil Ketua Umum: Dr. Joko Hartoyo, M.Sc. Wakil Ketua Umum: Verriyanto Madjowa*) Wakil Ketua Umum: Troy Astripratama, ST Sekretaris Jenderal: Syofyan Hasan, S.Pi. M.Si Wasekjen: Mayor Laut (KH/W) Csiska Cerina Wuwung Wasekjen: Awaluddin, ST Wasekjen: Dr. Drama Panca Putra, S.Pi, M.Sc. Bendahara Umum: Kemal Abdurahman Massi, ST, MT Wabendum: Dwi Ajeng Pramesti, S. Kel.   Bidang-bidang: 1.  Riset dan Pengembangan Iptek Ketua       :   Dr.  Muh Ilyas, ST, M.Sc Wakil Ketua:   Terry Kepel, M.Sc Sekretaris  :   Derta Prabuning, S.Kel Anggota    :   Dr. Taruna Mulia, ST, M.Sc Femy Sahami, S.Pi, M.Si Fajar...