Dr. Hawis Madduppa: ISKINDO Bisa Fokus ke Policy Brief Berbasis Keilmuan

(ISKINDO/Kendari) – Dr. Hawis Madduppa adalah Kepala Laboratorium Biodiversitas dan Biosistematika Kelautan di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan FPIK IPB. Sejauh ini telah terlibat di banyak penelitian seperti keanekaragaman hayati laut, konservasi, ekologi dan biologi ikan laut termasuk genetika populasi. Dia adalah direktur eksekutif di Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI), aktif di pusat unggulan EMBRIO di Institut Pertanian Bogor, peneliti whalesharks, dan aktif terlibat sebagai peneliti keanekaragaman hayati laut di Indonesia yang menggunakan Autonomous Reef Monitoring Structures (ARMS). Hawis adalah juga pengurus Biorock Indonesia, yang bekerja untuk restorasi dan rehabilitasi ekosistem laut di seluruh Indonesia. Hawis juga terpilih menjadi salah satu anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Dr. Hawis saat ini adalah juga anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana  Kelautan Indonesia (ISKINDO). Di acara rapat kerja nasional ISKINDO di Kota Kendari, (30/3), Hawis berbagi perspektif terkait pilihan strategi dan kontribusi anggota dan ISKINDO bagi pembangunan kelautan nasional. Berikut petikannya. “Saya memandang bahwa ISKINDO itu berikat pada latar belakang sarjana kelautan. Jadi tugas kita adalah bagaimana menjelaskan policy brief science based. Yaitu memberikan pandangan terkait kebijakan berdasarkan sains. Kita harus pasang mata, telinga, melihat di masing-masing universitas sekarang apakah lulusan sudah mampu menjawab atau tidak,” jelas Hawis. Menurutnya, hal itulah yang perlu ditelisik lebih jauh. “Karena kita sudah alumni maka kita harus bisa bagaimana membuat policy brief kita ke produk-produk (kelautan perikanan),” katanya. Berdasarkan pengamatan dan kutipan dari kuliah umum, baik yang disampaikan oleh Dirjen, petinggi KKP, termasuk Menteri Susi Pudjiastuti, Hawis menangkap bahwa bagaimana mereka itu berargumentasi dengan harapan agar alumni kelautan bisa fokus. “Fokus pada komoditas unggulan Indonesia, karena masih ada banyak hal yang belum terjawab,” imbuh Hawis yang...

ISKINDO Mengakselerasi Pencapaian Poros Maritim

ISKINDO – Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) menggelar rapat kerja nasional kedua di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, (30-31 Maret 2018). Raker ini merupakan tindak lanjut pasca pemilihan M. Zulficar Mochtar sebagai ketua pada kongres mereka di Jakarta di akhir tahun lalu.  Apa dan bagaimana pelaksanaan Kongres kedua yang dihadiri tidak kurang 50 peserta tersebut, berikut laporannya. *** ISKINDO mempertegas komitmennya dalam mengakselerasi pencapaian agenda Poros Maritim. Di pelaksanaan rapat kerja nasional mereka di Kota Kendari, 4 MoU kerjasama multipihak telah ditandatangani antara ISKINDO dan mitra kerja strategisnya di Sulawesi Tenggara, (30/3). Mengusung tema “Transformasi, Akselerasi dan Inovasi Gerakan Pembangunan Kelautan Menuju Indonesia Poros Maritim”, perhelatan rapat kerja kedua ini terasa berbeda sebab dibarengi penandatanganan nota kerjasama (MoU) antara DPP ISKINDO dengan Universitas Haluoleo dan Bank Sultra. Tak hanya itu, dua MoU lainnya juga diinisiasi yaitu antara DPW ISKINDO Sultra dengan Pemkab Konawe Utara dan Kepala Desa Samajaya. Lalu, atas fasilitasi ISKINDO, Universitas Haluoleo dan ITSDA, sebuah organisasi selam saintifik bersepakat untuk mendorong penguatan kapasitas mahasiswa, alumni maupun masyarakat umum terkait penyelaman saintifik dan riset kelautan di Sulawesi Tenggara. Selam saintifik dirasakan penting untuk Sultra yang menempatkan kelautan dan perikanan sebagai modal pembangunan daerah. “Kita tentu senang dengan diterimanya ISKINDO sebagai mitra, sebagai bagian dari solusi pembangunan kelautan di Indonesia terutama di Indonesia bagian timur,” kata ketua DPP ISKINDO M. Zulficar Mochtar terkait kesepakatan-kesepakatan penting tersebut. Dia mengapresiasi komitmen Pemerintah di Sultra dan Kampus UHO yang bersedia mengikat kerjasama dengan DPW ISKINDO Sulawesi Tenggara demi mengangkat potensi kelautan dan perikanan sebagai fokus sekaligus modal pembangunan daerah. “Sebagai organisasi profesi, keilmuan, ISKINDO menghimpun tidak kurang 16 ribu sarjana kelautan di seluruh...
Budidaya Salmon Intensif, Pelajaran dari Skotlandia

Budidaya Salmon Intensif, Pelajaran dari Skotlandia

Sebuah artikel yang ditulis Kevin McKenna di The Guardian empat tahun lalu muncul di permukaan. Artikel itu menceritakan latar belakang kritik seorang pemerhati lingkungan bernama Orri Vigfusson kepada Pemerintah Skotlandia. “Budidaya ikan telah menghancurkan jenis salmon alam di Skotlandia.” Begitu kata pendiri North Atlantic Salmon Fund (NASF) tersebut. Menurutnya, sebuah institusi bisnis perikanan budidaya bernama Holyrood telah berkontribusi terhadap penurunan stok ikan salmon yang hebat di sungai-sungai Skotlandia beberapa tahun terakhir. Orri bersama NASF, salah satu badan konservasi paling berpengaruh di dunia menyebut Pemerintah Skotlandia ikut bertanggungjawab karena telah merusak industri perikanan salmon demi mengejar keuntungan semata. Vigfusson, yang dipuji di Islandia karena kontribsinya dalam konservasi ikan salmon, menulis: “Negara Anda mendorong dan mendukung proliferasi dan perluasan budidaya ikan yang tidak berkelanjutan. Anda menghabiskan banyak stok ikan Anda dan mendorong budidaya ikan salmon campuran demi memaksimalkan target. Ikan-ikan yang seharusnya terlindungi ketika memamah di perairan kita.” “Kami yakin akan perjalanan balik salmon ini bahwa mereka akan bisa bertelur dan kembali pulih di sungai-sungai Skotlandia. Namun yang terjadi, kebalikannya, kelimpahan salmon telah menurun hingga 80-90% dalam beberapa dekade terakhir. Ini terutama disebabkan kegagalan Pemerintah Anda dalam mengelola salmon dengan benar.” Demikian isi surat protes tersebut. Surat tersebut mendapat dukungan asosiasi Faroe dan Islandia. Surat kritikan tersebut bernada kecaman atas pengelolaan perikanan budidaya salmon di Skotlandia. Sebelumnya Menteri Alex Salmond menyebut perlunya unit kerja untuk menginvestigasi pengelolaan perikanan Skotlandia. Budidaya salmon yang dimaksudkan tersebut bernilai sekitar 200 juta poundsterling per tahun bagi ekonomi Skotlandia. Munculnya surat tersebut merupakan peringatan keras di tengah banyaknya kegalauan para pihak atas kian masifnya industri budidaya salmon ini. Perlu diketahui bahwa perkembangan budidaya salmon di lepas...

ISKINDO Marine Policy Corner – Marine and Coastal Pollutan

Jakarta, 26 Februari 2016. Pencemaran Laut dan Pesisir menjadi kajian kebijakan yang diangkat pada minggu ketiga sejak diluncurkannya Program ISKINDO Marine Policy Center (IMPC) Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia. Pelaksanaan program ini kemudian disambut baik oleh Direktorat Pendayagunaan Pesisir, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan bersepakat untuk melakukan kerjasama dalam melakukan kajian-kajian kebijakan kelautan. Hal ini didasari oleh karena isu yang diangkat merupakan salah satu lingkup bagian dari Direktorat Pendayagunaan Pesisir yang perlu melakukan terobosan untuk mengurangi bahan pencemar yang masuk ke perairan di Indonesia utamanya pada wilayah pesisir. Dalam dialog yang dilaksanakan di Ruang Rapat DEKIN, Lantai 7 Gedung Mina Bahari II, Kementerian Kelautan dan Perikanan hadir Ketua Bidang Riset dan Iptek ISKINDO Dr. Agung Dhamar Syakti, Kus Prisetiahadi selaku Kabid Pencemaran Asisten Deputi Lingkungan dan Kebencanaan, Deputi Sumber Daya Alam dan Jasa, Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya dan Dr. Hendra Yusran Siry yang mewakili Direktorat Pendayagunaan Pesisir yang ketiganya merupakan narasumber yang memberikan gamabaran tentang kondisi pencemaran laut dan pesisir. Dialog kali ini juga dihadiri oleh berbagai instansi pemerintah seperti Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan Kementerian Perhubungan, Dit. Pengembangan PU, Ditjen Cipta Karya – Kementerian PUPR, Sekretaris Nasional CTI-CFF Indonesia, Dit. Pendayagunaan PPK dan Dit. PSDKP KKP serta beberapa perwakilan iskindo. Dalam dialog tersebut Hendra Yusran Siry berkesempatan menyampaikan paparannya lebih awal dengan judul Pengendalian Pencemaran di Kawasan Pesisir dan laut, data yang cukup mencengankan bahwa menurut data yang dihimpun sebanyak 80% sampah di laut itu berasal dari daratan dan 90% diantaranya adalah sampah plastik. Jelas ini adalah ulah manusia yang perlu dilakukan pembenahan secara besar-besaran. Kemudian dijelaskan lagi bahwa di Indonesia tercatat 480 perusahaan air kemasan, yang berproduksi...

#UPDATE – SUSUNAN ACARA RAKERNAS ISKINDO, JUMAT-SABTU / 4-5 DESEMBER 2015

Kepada Yth, Dewan Pertimbangan Organisasi ISKINDO Pengurus DDP ISKINDO Anggota ISKINDO Undangan dan Peserta Seminar Nasional Kelautan Bersama ini kami sampaikan perubahan jadwal/agenda dalam rangkaian pelaksanaan Rapat Kerja Nasional Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia. Kami ingin memberitahukan bahwa perubahan terdapat pada sesi Keynote Speaker yang sebelumnya dilaksanakan pada pagi hari dan berpindah ke siang hari, Kami ucapkan terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya. Silahkan download DISINI Hormat kami, M. Nasir 085340404020 Sekretariat Panitia Pelaksana Rapat Kerja Nasional Ikatan Sarjana Kelautan...

RAKERNAS 1 ISKINDO, 4 – 5 Desember 2015

ISKINDO – Pimpinan organisasi alumni kelautan Indonesia, M. Zulficar Mochtar menyampaikan bahwa pada Rakernas 1 Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia akan dilaksanakan pada tanggal 28-30 Oktober, namun karena beberapa pertimbangan sehingga kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 4-5 Desember 2015. Saat ini konsolidasi di berbagai daerah dan perguruaan tinggi dilakukan untuk melakukan perapihan data base alumni yang nantinya akan menghadiri kongres tersebut. #SEKRETARIAT...