Daya Tahan Nelayan Rawai Kakap di Pesisir Galesong Raya

Daya Tahan Nelayan Rawai Kakap di Pesisir Galesong Raya

Daeng Ruppa, (34) mengisi sore bersama istrinya Lina. Mereka berbagi tugas. Ruppa mengutas tali pancing lalu memasang umpan teri sementara istrinya merapikan nilon yang ditaksir sepanjang 3 kilometer. Sore itu, selain Ruppa, ada 3 pasang pria-wanita melakukan hal serupa. Di ruas lorong, lagu dangdut penuh rintihan jadi peneman. Inilah rutinitas para nelayan rawai kakap di Kampung Bayowa, Galesong, Sulawesi Selatan sebelum berangkat melaut di dinihari.

Bayowa adalah bagian Desa Galesong Kota, Kecamatan Galesong, Takalar.  Di kecamatan itu terdapat 37.711 jiwa penduduk. Bersama Kecamatan Galesong Selatan dan Utara diperkirakan ada 30 ribuan warganya bergulat aktivitas perikanan, langsung maupun tidak langsung. Trio kecamatan yang kerap disebut Galesong Raya ini terkenal kehidupan maritimnya.

Pernah dengar tentang cerita Senegal, Serikat Nelayan Galesong yang terkenal itu? Profesi Patorani? Paondara? Parengge? Pagae? Parere’? Pabuu? Palanra’? Pabandong? Parawe? Itu adalah istilah atau sebutan terkait ragam usaha perikanan di sana.

Di sepanjang pesisirnya, terdapat banyak nelayan pencari ikan terbang, pemancing, dan nelayan purse seine hingga parere’ atau minitrawl yang dilarang ini. Juga sering dikaitkan sebagai nelayan yang masih menggunakan bom ikan, bius, minitrawl dan bubu. Mereka ditemukan beroperasi di Selat Makassar hingga Laut Flores seperti Taka Bonerate, di Maluku hingga Fakfak, Kaimana di Papua bahkan perbatasan Australia.

Nelayan rawai Kampung Bayowa

Di Kampung Bayowa, ada sekira 150 armada perahu pemancing rawai kakap dengan ukuran 1 groston ke bawah dan menggunakan perahu fiber ketinting.  Mereka beroperasi di sekitar Pulau Deang-Deangang, Pulau Satangnga dan Pulau Bauluang dengan Tanakeke (di perairan Takalar) di selatan barat daya.

Selain perahu fiber, mereka perlu alat tangkap mata pancing, tali nilon, timah pemberat, lampu-lampu yang dipasang fiber. Panjang tali nylon (tasi) utama lebih 3 kilometer dan setiap satu depa atau satu meter setengah digantungi tali pancing dengan panjang 70 cm.

Daeng Ruppa dan umpannya (dok: K. Azis)

Dengan rawai bentangan lebih pendek, mereka bisa memasang utas pancing ke dasar hingga puluhan meter, karenanya ikan yang ditangkap juga ikan-ikan besar seperti ikan layaran, ikan mangngali, pari raksasa/lambaru hingga kerapu seberat 10 hingga 20 kilogram. Jumlah mata pancing maksimum 130 mata.

Untuk beroperasi, nelayan dibekali alat bantu yaitu GPS. Mereka membeli GPS seharga 1,45 juta. Dibeli di Paotere, Makassar. Selain itu mereka membekali perahu dengan lampu signs untuk menghindari tabrakan dengan kapal lain.

Sejauh ini ikan tangkapan yang kerap diperoleh adalah ikan kakap (katamba), ikan masidung, kerapu, kakap merah (bambangang), dan lobster. Demikian pula kerapu atau Sunu Bone.

Menurut pengalaman Daeng Taba, (48), pedagang pengumpul ikan nelayan, selama bertahun-tahun, ikan yang paling banyak ditangkap adalah ikan kakap, yang mencapai 70% dari total jumlah ikan tangkapan.

Ikan-ikan dijual perikat ataau perkilo jika ada yang sesuai selera restoran di Makassar. Sebagian lainnya dapat dikirim ke Kawasan Industri Makassar (KIMA) untuk di-fillet meski ini sangat jarang dilakukan.

Harga ikan kakap yang dijual perikat harganya berkisar 40 ribu, kadang 50 ribu, kadang 45 ribu tergantung jenisnya.  “Yang lebih mahal namanya katamba kassi’ (pasir) dan kakap merah, tetapi ukurannya hasil lebih besar,” kata Daeng Taba, pengumpul ikan setempat.

Ikan-ikan berukuran besar, menurut Daeng Taba digunakan untuk keperluan ekspor, seperti ke Dubai. Untuk memasuki pasar itu mereka memerlukan agen atau agen besar seperti di kawasan industri Makassar (KIMA). Jenis ikan yang dikirim biasanya adalah ikan-ikan karang bernilai tinggi seperti kerapu, kakap hingga gurita.

Terkait rantai pemasaran, beberapa nelayan kecil biasanya langsung menjual ke tetangga atau warga sekitar desa. “Alasannya banyak, bisa jadi karena hasil tangkapan yang sedikit serta kebutuhan uang lebih cepat,” kata Daeng Ruppa.

Armada dan anggota nelayan

Setiap perahu diisi oleh 2 orang nelayan, keduanya bertugas menyiapkan umpan, memasang rawai dan melepas ikan dari mata pancing. Sementara perahu yang digunakan adalah perahu yang terbuat dari fiber, sepanjang 7-8 meter dengan lebar 75 cm, ada yang 8 meter, lebar 45 centimeter.

Selama ini perahu dibikin di daerah Soreang atau sekitar 6 kilmeter dari Kampung Bayowa serta di Pulau Barrang Lompo, Kota Makassar.

Nelayan menggunakan perahu seharga Rp. 8 juta dan jika  kalau lengkap bisa sampai 15 juta. Mesin tempel yang digunakan adalah merk Long Cing buatan China, dengan daya 14 PK, seharga , 4,2 juta hingga 5 juta. Mereka juga menggunakan mesin Yamaha meski dengan harga mesin yang lebih mahal.

Pengadaan alat tangkap memerlukan biaya hingga Rp. 1 juta. Ini termasuk untuk pembelian tali nilon sepanjang 3 kilometer, utas tali pancing sepanjang 1, 7 meter yang menggantung di tali nilon utama. Besar tidaknya modal tergantung panjang nylon dan jumlah mata pancing.

Selama ini nelayan anggota seperti Daeng Ruppa, menyerahkan ikannya ke Daeng Taba, sebab telah menjadi anggota. Harga ditentukan oleh Daeng Taba sesuai dengan trend harga pasaran. Setiap pembelian ikan, selalu dibayar cash sementara di tingkat Daeng Taba ke pembeli di Makassar biasanya menunggu beberapa minggu hingga sebulan. Uang yang diperoleh disimpan atau sebagian dibelikan bahan-bahan.

Pulang melaut (dok: K. Azis)

Sebagai nelayan anggota, Ruppa memperoleh bantuan tali nylon, fiber dan dicicil. Beberapa nelayan juga mempunyai perahu sendiri sehingga hanya minta diberikan modal usaha seperti bahan bakar bensin. Nelayan lain bernama Daeng Bantang, (30) mengaku mempunyai pengalaman sebagai nelayan pencari telur ikan terbang, pernah pula ikut purse seine dan berdagang kayu hingga Kalimantan.

Nelayan-nelayan Bayowa, anggota Daeng Taba, dikenal sebagai nelayan yang tetap beroperasi di musim barat atau musim hujan tetapi menggunakan alat tangkap rawai yang lebih besar.

Operasi dan pemasaran

Selain Daeng Taba, terdapat beberapa pembeli ikan di Kampung Bayowa. Di antaranya, Haji Mangka (Kepala Desa Galesong Kota), Daeng Muji, Daeng Taba, Daeng Nompo serta Haji Ranyu’. Proses jual beli ikan dari nelayan rawai tidak dikenakan restribusi atau pajak.

Pada masing-masing pembeli lokal mempunyai timbangan dan wadah penampungan coldbox atau gabus yang bisa diisi jenis yang siap dipasarkan ke Kota Makassar.

Daeng Ranyu misalnya, mempunyai rumah yang berfungsi sebagai lokasi penimbangan dan seleksi ikan yang dibawa oleh nelayan anggotanya. Sementara Daeng Taba menggunakan tepi pantai sebagai lokasi penampungan hasil tangkapan anggotanya.

Dari tidak kurang 20 anggota Daeng Taba, diperoleh informasi bahwa rerata mereka melaut yaitu 20 hari, dengan minimal produksinya adalah 8 ikat ikan dengan berat masing-masing ikat antara 2 hingga 3  kilogram.

Dengan demikian maka setiap armada yang terdiri dari 2 orang dapat menghasilkan antar 16 kilogram hingga 24 kilogram perhari operasi, dengan demikian, jika beroperasi selama 20 hari x 16 kilogram = 320 kilogram hingga 480 kilogram peranggota nelayan atau kalau dikalikan 20 orang bisa mencapai 640 kilogram hingga 960 kilogram.

Seorang nelayan kakap membutuhkan 10 hingga 12 liter bensin, sebagai persediaan, itu kondisi ketika tangki telah terisi penuh. Jarak tempuh dalam ‘one day fishing’ mencapai 20 mile laut. Sebagai misal jarak dari Kampung Bayowa ke Pulau Deang-Deangang dicapai selama 2 jam perjalanan. Harga bensin sebesar Rp. 8 ribu.

Jadi mereka butuh modal pembelian bensi hingga 100 ribu/trip. Mereka hanya membawa bekal ransum nasi (tepa’) dan rokok dari rumah atau dengan catatan tidak perlu masak nasi di perahu.

Operasi dimulai dari dinihari. Nelayan berangkat ke laut pukul 12.30 dinihari, setelah sampai di lokasi mereka langsung lepas alat tangkap. Ini membutuhkan waktu pasang juga. Kadang sampai satu jam. Setelah pukul 3 atau 4 subuh lalu ditarik lagi. “Pokoknya, lama pemasangan hanya seusia sebatang rokok di tangan,” kata Daeng Ruppa.

Menurut pengalaman Daeng Ruppa, selama bulan Oktober 2018, mereka beroperasi hingga 10 kali tidak penuh karena tergantung cuaca juga. Musim penuh ikan biasanya di bulan November 2018. Mereka bisa mendapat keuntungan sampai 10 juta/bulan kotor. Musim operasi bermulai di bulan April sampai bulan Juni setiap tahun. Mereka juga beroperasi di bulan Desember meski angin kencang, beroperasi setelah membaca suasana musim.

Pola usaha dan relasi para pemancing rawai ini sebangun dengan cerita patron client yang banyak dikupas di wilayah pesisir. Nelayan pekerja terikat kerjasama dengan pemodal ‘middlemen’. Mereka terikat relasi sosial sekaligus ekonomi.

Sebagian besar merupakan jalinan kerabat atau keluarga dekat sehingga terasa kuat jalinannya. Meski demikian, di balik itu ada tersimpan etos kerja, ada pendistribusian tugas sebagaimana partisipasi perempuan ketika suami atau pihak pria bekerja atau mempersiapkan kegiatan melautnya.

Lebih jauh, komunitas nelayan pancing rawai di Kampung Bayowa ini merupakan varian dari beragam aktivitas perikanan lainnya, dalam artian mereka punya pengalaman sebagai pencari ikan terbang, pemasang jaring hingga nelayan purse seine. Waktu jualah yang menghantar mereka ke situasi sekarang.

Dari rezim usaha perikanan berkelanjutan, mereka termasuk unit usaha perikanan yang adaptif, fleksibel dan bisa sesuai dengan spirit zaman, misalnya, menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Situasi ini bisa saja berubah jika mereka mudah tergiur praktik penangkapan ikan yang lebih mutakhir, modern dan berdampak buruk ke lingkungan. Apalagi kompetisi semakin ketat dan membutuhkan adaptasi yang lebih cepat.

Tapi, apapun itu, menyaksikan kehidupan yang tak bisu di Kampung Bayowa, seperti Ruppa dan istrinya serta beberapa tetangganya yang harmonis di urusan rawai kakap, membuat kita optimis bahwa betatapun hidup semakin tak mudah, mereka tetap terikat solidaritas sebagai pekerja di pesisir dan laut. Modal mendasar ketimbang meratapi nasib, bukan? (KAS)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *