Hiu Paus di Botubarani, Teluk Tomini

Hiu Paus di Botubarani, Teluk Tomini

Download Bahan Presentasi klik disini

Gorontalo – Hiu paus (Rhincodon typus) yang lembut dan ramah berkumpul di Teluk Tomini. Di perairan Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo sebagai habitat baru spesies yang dilindungi penuh ini dan dapat disaksikan dengan mudah oleh masyarakat. Keberadaan hiu paus di perairan ini dapat menjadi ikon baru bagi provinsi Gorontalo sebagai ekowisata. Namun demikian wisata berbasis hiu paus yang tidak terkontrol dan tidak bertanggung jawab, akan mengancam kehidupan hiu paus.

Hiu paus merupakan jenis hiu terbesar yang ada di dunia, dengan ukuran panjang tubuhnya dapat mencapai 20 meter. Berikut ini klasifikasi hiu paus:

Kingdom: Animalia

Phylum: Chordata

Kelas: Chondrichtyes

Ordo: Orectolobiformes

Famili: Rhincodontidae

Genus: Rhincodon

Spesies: Rhincodon typus

Nama Inggris: Whale Shark

Nama lokal: Hiu paus, hiu bodoh, hiu geger lintang, hiu totol, hiu bintang, hiu bingkoh dan hiu bulan (munggiyango hulalo).

Sejarah Kemunculan di Botubarani

Oli, 38 tahun, nelayan di Desa Botubarani yang bekerja di perusahaan PT Sinar Ponula Deheto, tak pernah menyangka hiu paus menjadi daya tarik dan atraksi utama wisata di Botubarani saat ini. Sejak Mei 2013, Oli bersama Arfan bertugas untuk membuang limbah berupa kepala dan kulit udang yang dihasilkan oleh PT Sinar Ponula Deheto. Perusahaan ini sebelumnya mengolah hasil tangkapan ikan yang didatangkan dari daerah tersebut dan berasal dari daerah lain.

Udang vaname (litopenaeus vannamei yang diolah, berasal dari tambak di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, dan Parigi Moutung, Sulawesi Tengah — ke arah barat berjarak sekitar 200 sampai 350 kilometer dari lokasi perusahaan yang terletak di Botubarani, Bone Bolango.

Kepala dan kulit (limbah) udang, ada yang diolah kembali menjadi makanan ikan, dan sebagian dibuang. Pada awalnya, kulit dan kepala udang vaname ini dibuang didekat tubir karang yang jaraknya dekat dengan pantai. Akibat hempasan ombak maka limbah berupa kulit dan kepala udang ini terdorong ke pantai. Untuk menghindari bau atau aroma yang kurang sedap yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar pantai, maka limbah udang ini dibuang agak jauh dari tubir atau dari pantai.

Ketika mulai membuang limbah udang tersebut, menurut Oli, ada seekor hiu paus yang melintas. Lama ke lamaan, setiap kali membuang limbah udang, hiu paus ini akan mendekat dan berenang di sekitar perahu, dan namapaknya semakin jinak. Biasanya, terlihat ada empat ekor hiu paus selalu muncul saat limbah udang ini ditebar di laut.

Bila udang yang diolah cukup banyak, maka jumlah – limbah udang ini dibuang tiga kali dalam satu hari yaitu pagi, siang dan sore. Bila sedikit pasokan limbah udang, hanya sekali membuangnya di laut. Namun jika tidak ada pasokan udang, maka tidak ada kegiatan pembuangan limbah udang ke laut. Meskipun demikian, hasil pengamatan masyarakat sekitar pantai Botubarani masih melihat beberapa ekor hiu puas berada di sekitar perairan tersebut.

Hiu paus dalam bahasa Gorontalo disebut munggiyango hulalo (hiu bulan) sudah lama ada di perairan Botubarani, Oluhuta, Olele di Bone Bolango dan di Boalemo, serta di Parigi Moutung. Sejumlah nelayan yang mencari ikan, terutama nike (ikan kecil, sejenis ikan teri) sering melihat keberadaan hiu paus ini. Sejumlah wisatawan selam dan penyelam lokal juga telah melaporkan adanya keberadaan hiu paus, namun tidak mengetahui dengan pasti habitatnya. Hiu paus ini dianggap hanya sedang melakukan migrasi sementara di perairan tersebut. Begitu pula dengan masyarakat yang hobi memancing ikan, mereka sering melihat hiu paus di Teluk Tomini.

Dari hasil pengamatan hingga bulan Mei 2016, terdapat 13 – 14 individu hiu paus yang terpantau di perairan Botubarani. Namun sayangnya terdapat satu ekor hiu paus mengalami luka menganga didekat insang, berukuran 10 centi meter. Hiu paus yang mengalami luka, baru diketahui pada tanggal 4 Mei, siang. Hasil pendataan keberadaan hiu paus oleh masyarakat tercatat sejak tahun 2013 seperti pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Keberadaan hiu paus yang terpantau nelayan/warga Botubarani 2013 hingga Mei 2016 *

2013 2014 2015 2016
Bulan Keberadaan Bulan Keberadaan Bulan Keberadaan Bulan Keberadaan
Januari Januari*** Ada Januari*** Ada Januari *** Ada
Februari Februari Ada Februari Ada Februari Ada
Maret Maret Ada Maret Ada Maret Ada
April April Ada ** April Ada ** April Ada
Mei Ada Mei Ada ** Mei Ada ** Mei Ada
Juni Ada Juni Ada ** Juni Ada ** Juni
Juli Ada Juli Ada ** Juli Ada ** Juli
Agustus Ada Agustus Ada ** Agustus Ada ** Agustus
September Ada September Ada September Ada September
Oktober Ada Oktober Ada Oktober Ada Oktober
November Ada November Ada November Ada November
Desember Ada*** Desember Ada *** Desember Ada *** Desember

*) Terdapat empat individu hiu paus yang terpantau dan menetap di perairan Botubarani sejak 2014.

**) Perkiraan Musim Timur

***) Perkiraan Musim Barat

Ekowisata Berbasis Hiu Paus

TUBUHNYA YANG BESAR dengan gerakan yang lamban,dari kedalaman perairan, hiu paus berenang secara`horizontal dan mendekati permukaan. Dari celah insang tampak air mengalir. Tak lama, posisinya menjadi vertikal.

Pemandangan seperti ini dapat kita saksikan dari bawah laut saat mengamati pergerakan hiu paus yang sedang diberi makanan. Hiu paus, mendekati badan perahu, di antara sema-sema, setelah makanannya berupa limbah udang ditebar. Mulutnya yang besar dibuka di permukaan dan secara responsif segera melahap pakan yang diberikan

Posisi berenang secara vertikal berlangsung dalam beberapa menit, kemudian, hiu paus ini turun dibawah permukaan dan kembali pada posisi horizontal. Berenang, mendekat lagi ke perahu yang lain. Karena sifatnya yang jinak dan nampak bersahabat hiu paus sering mendekati para penyelam maupun yang sedang snorkeling. Mungkin hiu paus ini mengira ada yang memberinya makanan.

Sejak awal April 2016, pemandangan di atas lazim disaksikan di desa Botubarani. Dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang. Hiu paus, merupakan spesies yang berenang sambil menyaring dan menyedot air itu, jika diberi makan limbah udang.

Selama tiga tahun, Oli, nelayan dan warga Botubarani sama sekali tidak mengira bahwa satwa laut ini akan menarik bagi banyak orang yang ingin menyaksikan langsung.

Pemandu wisata yang pertama kali mengetahui keberadaan hiu paus di desa Botubarani adalah Adnan, tinggal di Kampung Bugis. Selanjutnya, divers di Gorontalo Cecep Nawai (Michael Angelo) menginformasikan ke penyelam yang lain pada awal April itu. Setelah itu, mulai banyak yang datang ke desa Borubarani. Data spesies hiu paus yang terpantau oleh Cecep Nawai, sebagaimana tabel 2 berikut ini

Jumlah spesies hiu paus yang terpantau Januari 2015 hingga April 2016 di Botubarani.

2015 2016
Bulan Jumlah Bulan Jumlah
Januari 1 – 3 Januari 8
Februari 4 Februari 8 – 10
Maret 5 Maret 10
April April 10
Mei
Juni
Juli
Agustus
September 1
Oktober 3 – 4
November 4
Desember 4

Pada Jumat (8/4) sore, Gorontalo diguyur hujan deras. Namun hujan tak membuat surut pengunjung yang ingin menyaksikan langsung hiu paus. Sedikitnya 30-an perahu bercadik (sema-sema) ditumpangi tiga sampai empat orang tumpah di perairan dengan kedalaman 40 sampai 100 meter itu.

Dari dalam laut, cukup jelas melihat pergerakan hiu paus ini. Di atas, sejumlah orang terus menebar kulit dan kepala udang. Satu per satu, hiu paus ini mendatangi perahu yang memberinya makan. Empat individu muncul sore itu. Satu berukuran besar, lebih dari delapan meter, lainnya tiga sampai empat meter.

Pada Sabtu (9/4) dan Minggu (10/4) antusias orang yang ingin melihat langsung hiu paus tak juga surut. Sebanyak 50 perahu bercadik, termasuk yang menggunakan mesin tumpah di perairan. Ribuan orang datang silih berganti. “Saya prihatin hiu paus ini dikeroyok seperti itu,” kata Prof. Krismono dari Balai Penelitian Pemulihan Ikan dan Konservasi Sumberdaya Ikan, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kelautan dan Perikanan.

Akibat banyak perahu yang berdekatan, mulut dan tubuh hiu paus bergesekan. Terlihat luka di mulut, dan dekat kepala dan punggung. Penggunaan perahu dengan mesin tempel sangat berbahaya bila terkena di tubuh hiu paus. Meski luka yang ada sekarang tidak menganga dan hiu paus memiliki kulit yang tebal, jangan ada gesekan lagi. Perlu waktu untuk penyembuhan luka tersebut.

Hiu paus yang ada di perairan ini sudah jinak. Untuk memunculkan hiu paus setelah makanannya ditebar, tidak perlu dengan memukul-mukul badan perahu. Karena itu, untuk menyaksikan hiu paus, dengan menggunakan perahu karet tanpa mesin dan dibatasi dua sampai tiga perahu saja.

Kondisi pengunjung yang ingin menyaksikan hiu paus dalam jumlah banyak masih terjadi hingga bulan Mei ini. Tecatat lebih dari 10 sampai 20 perahu setiap harinya dalam waktu tertentu.

Penataan Wisata Massal

PERAIRAN BOTUBARANI di sekitar munculnya hiu paus saat ini sudah dipasang pembatas berupa pelampung dengan keliling berukuran 210 meter. Tali dan pelampung ini dibentangkan dari pantai ke arah laut sepanjang 70 meter, lebar 70 meter, dan ditarik lagi ke arah pantai 70 meter. Di tempat inilah terjadi interaksi para pengunjung yang menggunakan perahu dengan hiu paus.

Ribuan wisatawan lokal, dalam negeri dan luar negeri sudah datang ke lokasi untuk menyaksikan langsung keberadaan hiu paus ini. Dengan jumlah lebih dari 10 perahu di lokasi tersebut, terlihat seperti pasar apung.

Di Botubarani, hiu paus muncul ke permukaan ketika pakan berupa limbah udang ditebar. Kebiasaan memberi makan ini membuat ketergantungan pada hiu paus yang sejak tahun 2013 telah dilindungi penuh seluruh bagian tubuh dan siklus hidupnya itu.

Dengan tidak terkontrolnya pengunjung yang ingin melihat langsung dan kebiasaan memberi makan hiu paus dalam jumlah banyak, bisa berdampak negatif terhadap perilaku hiu paus. Hasil penelitian di Oslob-Cebu, Filipina pada 2012 lalu, pemberian makan menyebabkan hiu paus mengasosiasikan manusia dengan sumber makanan sehingga mereka akan cenderung berenang mendekati manusia. Ini yang terjadi di Botubarani. Hiu paus mendekati perahu dari lokasi pemberian makan. Mulutnya yang besar langsung dibuka didekat perahu.

Hiu paus yang menjadi atraksi di Botubarani hidup secara alami di perairan. Hiu paus ini tidak dikurung atau terjerat jaring ikan. Diduga sumber makanan berupa limbah (kulit dan kepala) udang vaname yang membuat betah di perairan Botubarani dan sekitarnya.

Jumlah pengunjung ke Botubarani tidak dapat diprediksi setiap harinya. Namun, tumpukan pengunjung terjadi pada jam-jam tertentu saat hari libur. Umumnya pengunjung datang pada pukul 09.00 sampai 10.00 pagi dan pukul 16.00 hingga 17.00. Dalam jumlah banyak, pengunjung tidak bisa diatur dengan hanya dua sampai tiga perahu. Apalagi, pengunjung dalam jumlah rombongan, lebih dari 20 orang. Mereka ini semuanya ingin menyaksikan bersama-sama.

Pembuatan rumah apung yang terbuat dari karet disarankan untuk mengurangi tekanan dan kebiasaan pengunjung memegang bagian kepala hiu paus di dekat perahu.

Penelitian Hiu Paus di Botubarani

PADA SELASA (12/4) pagi, kami bergabung dengan tim peneliti Balitbang Kelautan dan Perikanan. Tim ini melakukan penelitian awal beberapa parameter lingkungan di perairan Botubarani. Di permukaan dan kedalaman delapan meter, temperatur tercatat 30,8 derajat Celsius. Hiu paus hidup di perairan tropis dan sub tropis dengan temperatur 21 – 32 derajat Celcius. Sampel berupa plankton di perairan, dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.

Hasil analisa laboratorium menunjukkan bahwa kelimpahan tertinggi untuk fitoplankton adalah dari kelas Bacillariophyceae dengan genus yang paling melimpah adalah Chaetoceros sp (5662-35386 sel/L). Dibeberapa lokasi perairan kehadiran Chaetoceros sp yang melimpah merupakan salah satu indikasi terjadinya upwelling disekitar perairan tersebut.

Kelimpahan tertinggi untuk zooplankton adalah dari kelas Crustaceae dengan genus yang melimpah adalah Acartia sp (7077-18401 ind/L). Ini menunjukkan bahwa perairan sekitar Botubarani memiliki kesuburan yang tinggi. kelimpahan makanan alami diduga juga berperan dalam mendukung keberadaan hiu paus.

Selanjutnya tim melakukan penyelaman. Lima individu berkumpul pagi itu. Ukuran hiu paus ini tiga hingga delapan meter. Satu diantaranya, diduga betina yang sedang hamil muda. Di perairan Galapagos, juga pernah dilaporkan adanya hiu paus betina yang sedang hamil. Hingga saat ini, di mana lokasi ideal individu menjadi dewasa, kawin dan beranak belum diketahui dengan jelas. Adapun hiu paus di Teluk Cendrawasih, Papua dan Ningaloo Reef, Australia, masih belum dewasa berukuran empat sampai enam meter.

Hiu paus memiliki karakteristik biologi reproduksi secara ovovivivar di mana telur disimpan didalam rahim sang induk yang berkembang menjadi embrio dan saat melahirkan anakannya sudah dapat hidup bebas. Di dalam rahim betina terdapat 300 embrio. Anakan hiu paus rata-rata memiliki panjang 51 centimeter.

Rabu (13/4) malam, kami berdiskusi dengan tim peneliti Balitbang Kelautan Perikanan, wartawan Kompas Ichwan Susanto dan peneliti hiu paus Mahardika Rizqi Himawan. Masih banyak yang belum terkuak tentang keberadaan hiu paus yang tersebar di perairan 124 negara ini.

Di Indonesia, keberadaan hiu paus, selain di Teluk Cendrawasih dilaporkan di Aceh, Pangandaran, Madura, Probolinggo, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah dan di Sulawesi Utara.

“Di Derawan (Kalimantan Timur) juga lagi ada hiu paus, sedang ditangani,” kata Kepala Balitbang Kelautan dan Perikanan, M. Zulficar Mochtar.

Perairan Teluk Tomini

HIU PAUS sudah lama bermigrasi di Teluk Tomini. Banyak cerita nelayan, hiu paus muncul ketika bulan gelap, diduga ini berhubungan dengan saat musim ikan nike. Bagi nelayan di Gorontalo, pada malam bulan gelap, di sejumlah tempat di perairan Gorontalo ada kelimpahan ikan nike. Ikan kecil dengan ukuran 1,5 centi meter itu disukai hiu paus.

Spesies ini muncul saat nelayan menangkap dan mengumpulkan ikan nike. Makanan utama hiu paus berupa plankton dan ikan teri. Beranekaragam makanan hiu paus, seperti copepod, cacing panah, larva kepiting, moluska, krustasea, telur karang dan telur ikan. Selain itu, cumi-cumi kecil dan ikan kecil.

Pada 2013, hiu paus terdampar di pantai Dulupi perairan Boalemo. Dan awal Januari 2016, terlihat di perairan Oluhuta, Bone Bolango.

“Sepanjang tahun hiu paus melintas atau terlihat saat kami menyelam,” kata Yulnis, penyelam dari Desa Olele. Hal senada disampaikan divers Gorontalo, Donald Wahani.

Teluk Tomini berada didekat garis katulistiwa. Mencakup tiga provinsi, masing-masing Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Sulawesi Utara. Kawasan ini berada di pusat perikanan tropis. Secara administratif, Teluk Tomini membentang di 14 kabupaten/kota. Daerah yang terkait dengan Teluk Tomini di Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Banggai, Kabupaten Tojo Una-una, Kabupaten Poso dan Kabupaten Parigi Moutong. Selanjutnya di Gorontalo mencakup Kabupaten Pohuwato, Boalemo, Kabupaten Gorontalo, Kotamadya Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango. Di Sulawesi Utara, mulai dari Kotamadya Bitung, Minahasa, Minahasa Tenggara, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

Pada Mei 2009, tiga Gubernur di Sulawesi menyepakati pengelolaan bersama Teluk Tomini. Penandatanganan kerjasama ini dilakukan Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad dan Gubernur Sulawesi Tengah H. Bandjela Paliudju di Paris Room Grand Kawanua Convention Center, Kayuwatu. Tiga Gubernur ini sepaham dalam mewujudkan visi dan rencana strategis dalam pengelolaan Teluk Tomini.

Penandatanganan ini dilakukan di sela-sela Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference, WOC) dan Coral Triangle Initiatif (CTI) Summit 11-15 Mei 2009, di Manado.

Sebagai jantung segitiga terumbu karang dunia (Heart of Coral Triangle), kawasan Teluk Tomini memiliki nilai ekonomi, sosial, dan ekologis. Nilai-nilai ini sangat berarti dalam menunjang kelangsungan penghidupan masyarakat. Untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, pelaksanaan pembangunan didasarkan pada pengelolaan sumberdaya alam secara rasional.

Sebagai jalur ruaya hiu paus dan satwa laut lainnya, Teluk Tomini memiliki luas enam juta hektar. Di kawasan ini terdapat dua cekungan geologi, yakni cekungan Tomini dan cekungan Gorontalo. Cekungan ini memberi isyarat adanya cadangan minyak dan gas, serta rawan gempa bumi dan tsunami.

Data Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa Teluk Tomini merupakan perairan laut semi tertutup. Hal ini ditunjukkan dengan adanya satu pintu masuk sempit yang menggabungkan perairan Teluk Tomini dengan sebelah Timur Samudra Pasifik. Teluk ini kaya dengan potensi sumberdaya pesisir dan laut, mangrove dan terumbu karang. Kawasan ini sudah lama dikenal keindahannya karena berada tepat di garis katulistiwa.

Potensi sumber daya alam dan lingkungan kawasan Teluk Tomini menghadapi ancaman dari beberapa faktor seperti pencemaran air dari daratan dan laut. Degradasi habitat juga terjadi di beberapa lokasi pengamatan. Selain itu, eksploitasi berlebihan, sedimentasi dan banjir, kenaikan muka air laut sebagai dampak dari perubahan iklim, bencana alam, konflik penggunaan dan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan.

Perlindungan Hiu Paus

PADA 2015, Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah membuat pedoman umum Monitoring Hiu Paus di Indonesia (kkji.kp3k.kkp.go.id). Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan hiu paus sebagai jenis ikan yang dilindungi secara penuh melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu paus.

Melalui Pedoman Monitoring ini, pada 1999, hiu paus ditetapkan Apendiks II dalam Convention on Migratory Species (CMS). Artinya hiu paus baru akan ‘merasakan’ dampak yang signifikan bila perlindungan dan pengelolaannya diterapkan melalui kerja sama internasional. Upaya konservasi spesies ini dilakukan melalui jejaring antar berbagai negara.

Pada 2000, hiu paus masuk dalam Daftar Merah untuk Species Terancam oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dengan status rentan (vulnerable). Artinya populasinya diperkirakan sudah mengalami penurunan sebanyak 20-50% dalam kurun waktu 10 tahun atau tiga generasi. Pada tahun 2002, hiu paus akhirnya dimasukkan dalam Apendiks II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) yang artinya perdagangan internasional untuk komoditas ini harus melalui aturan yang menjamin pemanfaatannya tidak akan mengancam kelestariannya di alam.

“Saya akan bentuk Pokja (Kelompok Kerja) Hiu Paus dan Pari Manta, agar pemantauan dan action plan menjadi lebih baik,” kata Zulficar Mochtar.

 

Saran dan Rekomendasi

Saran

Untuk mengurangi tekanan terhadap spesies hiu paus, disarankan perlu membuat rumah apung yang terbuat dari karet. Hal ini untuk mengurangi kebiasaan pengunjung memegang bagian kepala hiu paus dari dekat perahu.

Saat ini terdapat 13 sampai 14 individu hiu paus di Botubarani. Sebagai habitat baru di Botubarani, perlu adanya dokter hewan yang spesialis memonitor luka baru maupun luka lama yang ada pada tubuh hiu paus. Seekor hiu paus yang luka menganga, muncul pada 4 Mei siang diduga mengalami luka bukan di lokasi tersebut.

Rekomendasi

  1. Perairan sekitar Batubarani Gorontalo merupakan habitat hiu paus yang perlu dilindungi keberadaan dan keberlangsungan hidupnya.
  2. Untuk menghindari interaksi hiu paus dengan aktivitas perikanan artisanal di sekitar perairan desa Botubarani, pemerintah daerah perlu mempertimbangkan untuk melakukan relokasi kegiatan penangkapan ikan di luar wilayah calon zonasi kawasan perlindungan hius paus agar keberlangsungan hidupnya terjaga. Sedangkan untuk menghindari interaksi langsung dari para pengunjung dengan hiu paus, perlu dilakukan sosialisasi “pedoman wisata hiu paus” yang diterbitkan oleh KKJI-Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil-KKP.
  3. Pemerintah daerah Gorontalo perlu segera menyusun peraturan dalam rancangan peraturan daerah (PERDA) tentang perlindungan kawasan perairan Gorontalo menjadi zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sebagai lokasi konservasi jenis (hiu paus) yang dilindungi.
  4. Kawasan pesisir wilayah Gorontalo merupakan daerah yang potensial sebagai kawasan ekowisata dan untuk kegiatan penelitan hiu paus di wilayah di Indonesia Tengah, sehingga dapat dikelola dan dikembangkan namun tetap menjaga kelestarian hidupnya. Kegiatan ekowisata akan dapat mendatangkan pendapatan asli daerah (PAD).

 

Daftar Pustaka

Balitbang Kelautan dan Perikanan. 2016. Laporan kegiatan crash program hiu paus di Teluk Tomini Gorontalo. KKP. 20 hal.

Kementerian Kelautan dan Perikanan, Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI nomor
18/Kepmen-KP/2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (Rhincodon typus)

Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2015. Pedoman Umum Monitoring Hiu Paus di Indonesia. Penerbit Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan Ditjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. 48 hal.

Kementerian Negara Lingkugan Hidup. 2009. Potret Kualitas Lingkungan Teluk Tomini, Penerbit Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sulawesi, Maluku dan Papua. 32 hal.

Program SUSCLAM. 2012. Atlas Mangrove Teluk Tomini. Penyusun Ridha Damanik dan Rignolda Djamaluddin. 89 hal.

 

Dharmadi, Peneliti Hiu dan Pari dari Balitbang Kelautan dan Perikanan.

Verrianto Madjowa, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO). Alumni Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Unsrat Manado.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *