ISKINDO Kirim Tim Pasca Tumpahan Minyak di Kaltim

Pencemaran di Kaltim (dok: Mongabay)

Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) membentuk tim khusus untuk ikut serta mengkaji dampak dan memberi solusi pasca pencemaran minyak di pesisir dan laut Kota Balikpapan dan Penajam Pasir Utara minggu ini.

Ketua Harian Iskindo, Muhammad Abdi Suhufan mengatakan bahwa sesuai dengan kompetensinya, tim khsusus ini tak hanya mengkaji tetapi ikut serta menyiapkan aksi lapangan berkaitan mitigasi dan langkah-langkah antisipatif lainnya.

“Tujuan spesifiknya mengkaji dan menyiapkan rekomendasi terkait spektrum dampak. DPP dan DPW Iskindo Kaltim telah siap sejak awal bahkan telah ikut bersuara di media. Hari ini (5/4), sebagian anggota tim sudah ada di Balikpapan,” ujarnya.

“Sesuai arahan Ketua Umum Iskindo, maka telah dibentuk tim khusus untuk memantau dan mengkaji kasus ini,” imbuhnya.

Beberapa anggotanya adalah M. Putrawidjaja, M.Sc (Undip/pencemaran laut), Dr. Gusti Sidemen (ITS/teknik kelautan), Dr. Sakdullah (Undip/ekologi kelautan), Amiruddin (Undip/riset bawah laut), (Muhammad Jufri/pemberdayaan masyarakat), Kamaruddin Azis (Unhas/manajemen pesisir dan laut), Derta Prabuning (Undip/ Terumbu Karang) dan Ketua DPW Kaltim.

Dr. Sakdullah yang juga bekerja untuk KLHK, menyatakan bahwa terdapat beberapa dampak yang perlu diwaspadai terkait kasus di Kalimantan Timur itu.

“Ekosistem mangrove dan bentik zona intertidal, termasuk biota asosiasinya. Ini dapat mengakibatkan kematian secara masif pada ekosistem mangrove dan biota di dalamnya bila pencemaran minyak tidak tertangani dengan baik,” kata Sakdullah.

Sakdullah juga mengatakan bahwa dengan adanya minyak maka kandungan oksigen dalam air akan terbatas dan akan mengganggu kehidupan bawah laut. Produktivitas perairan dan kadar oksigen menurun, ekosistem perairan akan terganggu.

“Terganggunya sistem pernapasan biota laut, karena tertutupnya alat respiratorinya, insang pada ikan, paru-paru pada mamalia laut seperti paus, lumba-lumba serta reptil laut seperti penyu,” sebut Sakdullah.

“Pada tingkat akut akan menyebabkan kematian biota laut, bila kematian terjadi secara luas pada satu atau lebih tingkatan makanan (trophic level) maka dapat dipastikan akan terjadi gangguan terhadap rantai makanan dan jaring-jaring makanan di laut,” tambahnya lagi.

“Dampak buruk pada beberapa ekosistem dan komponen ekosistem di laut, karena satu sama lain saling terkait dalam hubungan saling melengkapi dan amat kompleks. Maka tumpahan minyak dalam skala luas pada kawasan yang terdiri dari eksistem rentan pada akhirnya dapat menimbulkan efek katastropik yang bisa mengarah pada bencana ekologi,” papar Sakdullah.

Dampak nyata

Data yang diperoleh ISKINDO menyebutkan bahwa sejauh ini, ada 176 nelayan di kelurahan Baru Ulu Balikpapan tak bisa melaut.

Korban jiwa yang telah terindentifikasi sebanyak 5 orang dimana 4 dinyatakan meninggal dan satu dalam perawatan. Nama korban meninggal adalah Suyono (54), Sutoyo (40), Imam (40) dan Kasim. Sementara yang dirawatbernama Agus Salim.

Dampak lainnya adalah keramba jaring apung milik KUB Sumber Bahagia harus dipanen cepat, sebanyak 18 kotak.

Di kawasan Kariangu, ada 15 set jaring insang nelayan terkena minyak. Ada 45 kapal tak melaut sejak tiga hari terakhir karena situasi memburuk. Di Balikpapan Barat ada 181 nelayan tak bisa melaut.

Mangrove terpapar (dok: Inews)

Dampak kerusakan akan semakin besar sebab areal yang sudah terkena disebut telah mencapai 7.000 hektar, panjang pantai mencapai 60 kilometer sedang ekosistem mangrove yang ada mencapai luas hingga 34 hektar.

Titik-titik lokasi yang terpapar di antaranya, di Kelurahan Kariangu, Kampung Atas Air Margasari, Pantai Banua Patra, Kampung Baru Hulu dan Hilir, Kecamatan Balikpapan Barat

M. Putrawidaja, alumni Kelautan Undip yang berpengalaman di aplikasi teknologi kelautan mengatakan bahwa dia melihat telah ada upaya-upaya standar-standar terkait insiden di laut atau fasilitas yang ada.

“Saya kira automatic shut down procedure sudah ada dan jalan, yang nampaknya belum efektif adalah penanggulangan sebaran tumpahan minyak. Yah, harapannya agar tak meluas. Ini yang terkesan saling tunggu,” kata alumnus Undip dan University of Newcastle upon Tyne Inggris yang mengaku punya pengalaman penanggulangan minyak di Balikpapan tahun 2004 ini.

Apa yang disampaikan M. Putrawidjaja tersebut menurut Dr. Gusti Sidemen, pakar Iskindo lainnya adalah betapa pentingnya menguasai metode dan status dari aset atau sarana prasarana yang ada.

“Saya kira menjadi sangat penting dan perlu fokus pada keilmuan, pada indikasi “ketidaktahuan Pertamina bahwa pipanya bergeser”.  Di sinilah peran, teknologi sedapat mungkin bisa mengawasi atau mengontrol pipa bawah laut tersebut tanpa harus menyelam,” ujarnya.

Untuk Balikpapan sendiri, diperkirakan luas pesisir laut terpapar mencapai 12,987,2 hektar menurut estimasi satelit.

Hasil konferensi pers Pertamina, (4/4) menyebutkan bahwa Pertamin UP RU V telah mengakui bahwa tumpahan minyak mentah di perairan Teluk Balikpapan dari PT Pertamina. Sementara jenis minyak yang tumpah berupa minyak mentah yang berasal dari Terminal Lawe-Lawe ke fasilitas refinery akibat dari putusnya pipa distribusi minyak mentah (crude oil).

Disebutkan, sebagaimana dikutip dari Tribun Kaltim, ukuran pipa tersebut berdiameter 20 inci dengan tebal 12 centimeter dari bahan terbuat dari baja usia pipa 20 tahun.

Ketua Umum ISKINDO, M. Zulficar Mochtar, mengatakan bahwa kejadian ini perlu menjadi pusat perhatian khusus Pemerintah dan para pihak, dan mendesak agar aparat penegak hukum turun melakuka investigasi karena dampak yang ditimbulkannya sangat signifikan.

“Kita mendorong semua pihak untuk bergandengan tangan membantu pemulihan, merehabilitasi dampak, baik pada ekosistem, ekonomi nelayan, termasuk memastikan keamanan pelayaran dan usaha pertambangan,” kunci Zulficar.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *