LAUT ADALAH MASA DEPAN

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 13.466 pulau wilayah pesisir membentang sepanjang 91.000 kilometer dari sabang sampai merauke, dengan segenap sumberdaya alam hayati, non-hayati dan energi yang sangat melimpah dan tak ternilai. Negara ini memiliki ekosistem laut paling kaya di dunia: hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang terluas dunia. Kondisi ini menjamin kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Indonesia juga terletak di posisi geografis strategis pada persimpangan internasional samudera hindia-pasific dan benua asia-australia, sehingga menjadi pusat berbagai aktifitas ekonomi dan sosial kelautan. berbagai potensi ini telah dimanfaatkan baik untuk kepentingan pelayaran dan perkapalan, pertambangan dan migas, pariwisata bahari, pemukiman, pertanian dan perikanan, dan berbagai jasa lingkungan lainnya.

Ironi Negara Kepulauan. Implikasi luas pemanfaatan sumberdaya alam secara serampangan dan tidak serius memberikan konsekuensi makin rapuhnya status sumberdaya kelautan Indonesia, menyebabkan kerugian ekonomi, ekologis, dan sosial yang sangat besar. Praktek perikanan ilegal (illegal, unreported, unregulated fishing) yang begitu masif, degradasi ekosistem pesisir, tantangan dan implikasi perubahan iklim global, pencemaran dan tumpahan minyak menjadi tantangan nyata. Disisi lain, berbagai isu makro seperti pertumbuhan penduduk semakin cepat, kemiskinan di wilayah pesisir makin signifikan, pulau perbatasan, adanya ancaman bencana alam pesisir, dan krisis pangan global merupakan tantangan yang harus diantisipasi secara strategis oleh Indonesia.

Laut adalah Masa Depan. Berbagai orientasi pemenuhan kebutuhan dan tantangan kehidupan, serta ancaman global mendesak pergeseran pembangunan dari orientasi darat ke pemanfaatan sumberdaya kelautan. Laut perlahan tapi pasti telah menjadi sumber perebutan pengaruh, kekuatan ekonomi, sumbu peradaban baru, pusat pertarungan, dan melahirkan guncangan-guncangan serius bagi pemanfaatan berkelanjutan. Siapa menguasai laut, akan menguasai dunia.

Indonesia tidak bisa menolak takdirnya sebagai bangsa bahari. Dengan segenap potensi laut Indonesia yang demikian besar sudah seharusnya menjadi fokus upaya untuk membawa negeri ini ke masa depan yang lebih baik. Bukan hanya dalam konteks nasional, namun juga memberikan kontribusi aktif strategis menjadi solusi bagi persoalan maritim global. Menjadi pusat-pusat keunggulan maritm dunia. Menjadi sumbu dan Poros Maritim Dunia. Sudah waktunya pembangunan kelautan menjadi urat nadi pembangunan nasional Indonesia, dan memberikan dampak global yang signifikan. Indonesia tidak bisa lagi menolak takdirnya sebagai bangsa bahari.

Membangun Kelautan harus berdiri di alas Pembangunan Berkelanjutan. Upaya dan semangat pembangunan kelautan tidak bisa dilakukan dengan serampangan. Harus mengacu pada alas prinsip dan kebijakan strategis, yaitu: (1) Kedaulatan, memastikan Indonesia menjadi tuan rumah, memiliki kedaulatan, dan tidak didikte atau diintervensi. (2) Keamanan, memastikan berbagai proses pembangunan kelautan dalam situasi aman, terkendali dan bertanggung jawab; (3) Kemakmuran, memastikan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat pesisir dan kepulauan, sebagai bagian penting, aktor utama dan fokus pembangunan; (4) Kelestarian, memastikan proses pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek kelestarian pemanfaatan bagi generasi saat ini maupun mendatang. Dalam konteks yang lebih luas, pembangunan kelautan harus relevan dengan kebutuhan pembangunan ditingkat local, nasional dan internasional dalam kerangka dan misi Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals); (5) Berbasis pengetahuan, memastikan berbagai strategi dan kerangka pembangunan memiliki alas saintifik, partisipasi dan komitmen stakeholders, data dan informasi yang bisa diandalkan, sehingga bisa berlangsung efektif.

Kiprah Alumni Kelautan. Perjuangan dan pergerakan para alumni kelautan Indonesia pada dasarnya adalah satu rangkaian dan perjalanan panjang yang saling terkait antara kiprah para alumni baik secara formal maupun informal sejak mahasiswa hingga kini, baik dalam kerangka pergerakan individu maupun institusi, yaitu menjadikan Indonesia sebagai pusat keunggulan kelautan dunia. Di sisi lain, sebagian dari 15.000 alumni kelautan belum terserap dalam dunia kerja yang pas dengan bidangnya, belum memainkan peran strategis dan optimal di semua lini strategis. Untuk itu, ISKINDO perlu mendorong dan mengambil peran penting dalam menjembatani serta melanjutkan proses pembangunan kelautan yang optimal, dengan mengoptimalkan kiprah-kiprah alumni kelautan di berbagai bidang yang relevan.