Mental Impor dan Mereka yang Terpental

Mental Impor dan Mereka yang Terpental

Perspektif kita pada segala yang berbau asing mungkin berkaitan dengan tidak bisanya kita ‘move on’ dari tekanan kolonialisme. Bahkan di usaha perikanan sekalipun.  Berikut tulisan Kamaruddin Azis, pengurus DPP ISKINDO terkait isu impor spesies yang sedang marak berikut dampaknya.

***

Fakta dan gejala keterhubungan unsur lokal dan sistem global menjadi menu keseharian kita. Dari tahun ke tahun, pada ruang dan waktu, di hampir semua pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, sosial hingga ekologi, transformasi fisikal dan non-fisikal menjadi santapan bagi siapa saja.

Sepakbola adalah contoh mudah tentang betapa bergairahnya kita sebagai bangsa untuk gegas merekrut legiun Eropa atau Afrika di tengah merebaknya kompetisi liga-liga dunia.  Bukti bahwa kita butuh asesoris fisik, gesit dan jangkung untuk berprestasi.

Benarkah? Tidak juga. Toh kita belum bisa lolos Piala Dunia atau tingkat Asia sekalipun meski telah bertahun-tahun merekrut Cristian Gonzales. Kekalahan pada Palestina minggu ini jadi pukulan balik, bahwa kita tetap saja tak ‘tinggi-tinggi amat’. Tetap dilampaui Jepang, Korea bahkan Thailand.

Mengapa perlu diwaspadai?

Saya tak membahas sepakbola lebih jauh atau siapa lagi selain Gonzales, tetapi pada gejala ‘mental impor’ dan dampaknya pada usaha perikanan. Pada ikan, pada ikan hias, pada ikan konsumsi.

Terkait praktik itu, faktanya, kita tak hanya mendatangkan ikan asingnya, tetapi membeli franchise-nya, dari Sushi hingga kafe bermenu Salmon. Padahal, introduksi spesies asing harus diwaspadai. Mereka dapat melabrak kebiasaan yang sudah ada di eksosistem sungai, danau, hingga lautan kita. Juga dampak pada produsen yang ada.

Dampaknya pada aspek ekonomi, sosial dan ekologi. Itulah mengapa ada karantina hewan dan tanaman, di pelabuhan dan bandara. Meski mereka – para petugas – bisa saja terlelap ketika diam-diam ikan asing menyusup melalui kapal-kapal ikan, kargo atau bahkan pesawat udara.

Nama Hagfish, Lancetfish, Alligator Gar, Arwana hingga Arapaima memang bukan nama pesepakbola, bukan pula penyanyi dangdut. Dia adalah ikan mancanegara yang menyita atensi kita belakangan ini.

Arapaima  misalnya. Dia menjadi perhatian setelah tindakan pelepasliaran oleh pemiliknya di Surabaya. Tujuh spesies telah diamankan. Statusnya yang bukan spesies lokal dapat mengganggu keseimbangan perairan. Dia bisa menjadi kompetitor dan pemangsa bagi spesies tempatan yang kian langka karena eksploitasi.

Pelaku pelepasliaran melanggar sejumlah aturan dan undang-undang antara lain Permen KKP no 41 tahun 2014 tentang larangan impor jenis ikan berbahaya ke Indonesia, UU No 31 tahun 2009 tentang perikanan. Arapaima gigas termasuk daftar jenis invasif di Permen LHK no 94 tahun 2016.

Gejala itu di sekitar kita

Ikan-ikan yang familiar dengan kita memang tak semuanya asli Indonesia. Mujair misalnya, berasal dari Afrika. Dia ditemukan pertama kali pada tahun 1939 di muara Sungai Serang, pantai selatan Blitar, Jawa Timur. Ikan ini disebut Tilapia mozambique karena disebut endemik di Mozambia, Afrika.

Ikan mas alias karper yang mulai dipelihara di Indonesia sekira tahun 1920-an disebut berasal dari Tiongkok dan Jepang. Ikan-ikan lain yang akrab di lidah yang juga disebut datang dari luar adalah patin. Lupakan sejenak gurame, bawal, nila, gabus, hingga sidat.

Ada contoh lain pada siapa yang terusik? Ada, ikan lele lokal alias samelang, kalau di bahasa Ibu (Makassar).

Ikan samelang nyaris tak ditemukan lagi di sekitar kampung penulis, di Sungai Galesong, di segitiga Tabbuncini – Tambakola – Jempang. Bersamaan banyaknya disebar ikan lele dumbo di sungai-sungai sejak 10 tahun terakhir dari hulu Tangkia Doja hingga dan Je’neberang di Gowa.

Samelang bertubuh licin, pipih dan bersungut, imut dan beda jauh dengan dumbo. Mempunyai nama Latin Clarias batrachus.

Sebagai ikan lokal atau katakanlah ada sejak kakek buyut kita masih muda dia mempunyai ragam nama. Ikan kalang, ikan maut, ikan seungko, sibakut kalau di Sumatera. Di Kalimantan disebut ikan pintet. Ikan lele atau lindi kalau di Jawa.

Lele dumbo datang ke Indonesia sebagai alternatif jamuan. Bahkan mempunyai fungsi sebagai agen ganda, tak hanya melayani kebutuhan pangan kita tetapi juga menjaga kualitas air tercemar.  Untuk dikonsumsi, ikan-ikan lele ini diinapkan di air mengalir untuk membersihkan atau dalam bahasa Jawa disebut ‘diberok’.

Di urusan perikanan, importasi spesies asing untuk kepentingan ekonomi tak hanya lele dumbo. Udang Vaname yang sedang ngetrend saat ini sesungguhnya juga berasal dari mancanegara.

Ketika udang windu limbung karena penyakit, produksi udang nasional merosot hingga datang si penyelamat Vaname atau Litopenaeus vannamei.  Kini udang windu menepi, semakin tak diminati karena rewel dan belum ditemukan solusi atas penyakit-penyakitnya.

Banyak petambak kita tak tahu kalau habitat asli Vaname adalah Pantai Pasifik Barat Amerika Latin.  Terkenal di Teluk Meksiko, Kolombia hingga Brazil di tahun 70-an. Kian dekat ke Indonesia setelah diimpor China, Filipina dan Thailand di tahun 90-an. Setelah itu Indonesia.

Terkait Vaname, salah satu alasan Pemerintah kala itu adalah Vaname dianggap lebih tahan penyakit dan tumbuh cepat –masa  pemeliharaannya hanya 90 – 100 hari dan lebih efisien dalam soal pakan. Jadi ada unsur ekonomi di dalamnya.

Importasi sebagai bawaan kolonialisme?

Bukan hanya di urusan perikanan tetapi di sepakbola seperti disebutkan sebelumnya. Juga pada cara dan tempat makan kita, jenis menu, cara berpakaian hingga laku berfoto pun disebut sebagai dampak atau gejala cara pandang kita pada yang berbau asing.

Dia menyebar pada seluruh dimensi berbangsa, pada aspek sosial, budaya, ekonomi hingga ekologi. Apa yang terlihat saat ini, pada sikap antusiasme kita ke produk asing, ke spesies asing tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kolonialisasi negara-negara Barat seperti Portugis, Belanda, Inggris, atau Perancis atas Asia.

Orang Eropa itu selalu mencangkokkan unsur-unsur Barat pada segala dimensi. Baik untuk kepentingan personal mereka maupun atas nama Negara.

Personal misalnya mereka bisa saja membawa anjingnya datang atau membawa burung kesukaan hingga ikan-ikan akuarium. Tabiat orang-orang kaya elitis. Kalau atas nama negara, yaitu ketika mereka ingin mendongrak produktivitas negara jajahan dengan memproduksi kapas, anggur atau bahkan budidaya perikanan air tawar.

Tak bisa dipungkiri bahwa kolonialisme telah membawa hal baru ke Indonesia seperti teknologi transportasi, pertanian ala cultuur stelsel, Infrastruktur masif di Jawa pendidikan – ingat Stovia, MULO – pengajaran bahasa asing hingga pengenalan produk perkebunan sebagai incaran pasar Eropa.

Tapi di sisi lain, ada banyak orang Indonesia yang miskin atau terkebelakang sescara sosial dan ekonomi. Hasil pertanian dibeli murah, praktik cultuure stelsel berdampak pada kelaparan dan perampasan hak sipil seperti di sepanjang Cirebon dan Demak.

Penjajahan berdampak pada tingginya angka kematian. Tanah-tanah pertanian yang dulunya subur dikonversi menjadi lahan rempah-rempah atau yang hanya sesuai dengan kebutuhan pasar Eropa hingga penyakit yang kian beragam.

Singkatnya, antusiasme kita pada segala yang berbau asing itu adalah corak dari upaya penjajah mengatur daerah koloninya sehingga ada kecenderungan kita sungguh berhasrat memutarbalikkannya menjadi ‘wajah baru kita’.

Situasi ini terus bertahan, terus berdenyut seperti telur berudu di musim peralihan menuju musim penghujan.

Masuknya spesies-spesies seperti udang Vaname atau ikan lele, Salmon hingga Unagi tidak bisa dilepaskan dari argumentasi atau skenario pembangunan usaha perikanan. Sebagai bagian dari modernisasi usaha perikanan yang lebih cepat, masif, ekonomis dan membahagiakan dalam jangka pendek.

Masalahnya, penggunaan atau introduksi tersebut berdampak pada aspek yang sama juga, ada spesies lokal yang tergeser, tak lagi dilirik dan lambat laun menuju kepunahan. Apalagi jika telah dirusak dengan alat tangkap yang merusak dan tak selektif.

Yang amat mengkhawatirkan, proses transformasi nilai dan jenis spesies itu dimotori oleh Pemerintah, melalui kepabeanan yang lalai, melalui bandara dan pelabuhan, melalui pialang. Oleh mereka yang tanpa sadar melanggengkan kesan bahwa orang Indonesia dan spesies layak konsumsi yang ada tak seberkualitas asal asing.

Bagi mereka, segala yang berbau Barat adalah kemajuan itu sendiri. Tidak peduli ikan samelang, betok, hingga gabus terpental di sungai-sungai pengharapan.

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *