OOC 2018 dan Temuan-Temuan Penting ISKINDO

OOC 2018 dan Temuan-Temuan Penting ISKINDO

BALI, ISKINDO. Perhelatan Our Ocean Conference OOC 2018 usai sudah. Yang masih terngiang adalah pernyataan penting Presiden Joko Widodo. “Kita harus membuat komitmen dan mengambil langkah konkret, yang bisa dirasakan oleh rakyat dan memiliki dampak nyata pada konservasi laut.  Setiap tindakan kecil amat berarti,” pesannya.

Ketua Harian ISKINDO, Muh. Abdi Suhufan serta Koordinator bidang Komunikasi, Organisasi dan Ketenagakerjaan, Kamaruddin Azis menjadi peserta pada pelaksanaan Our Ocean Conference di Nusa Dua Bali pada 29 dan 30 Oktober 2018. Selain mereka terdapat beberapa anggota ISKINDO yang mewakili beragam organisasi seperti Kemenko Maritim, KKP, CTI, WWF, Kehati, TNC, DFW, hingga SEA Project USAid. Berikut laporannya.

***

Penyelenggaraan OOC 2018 tersebut merupakan yang kelima kalinya sejak pertama kali diselenggarakan pada 2014 lalu di Washington DC, Amerika Serikat. Pada OOC yang bertema “Our Ocean, Our Legacy” (Laut Kita, Warisan Kita) poin-poin yang telah dibahas, dikampanyekan – bahkan diperdebatkan – telah dirumuskan bersama berkaitan upaya dan strategi keberlanjutan pengelolaan laut sebagai asset masa kini dan nanti.

Bagi Pemerintah, sebagaimana ditegaskan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, OOC 2018 kali ini amat strategis sebagai wahana bagi semua pihak untuk berkontribusi dalam memecahkan masalah terkait isu kelautan dan perikanan dunia.

Ada beberapa tema yang telah dibahas, baik bersifat G to G maupun di arena konferensi seperti pelestarian laut, keamanan dan hak-hak laut, keberlanjutan sumber daya laut termasuk mencari solusi atas persoalan-persoalan kelautan seperti IUUF dan sampah plastik.

Suasana konferensi (dok: istimewa)

Beberapa sosok yang selama ini dianggap berpengaruh di ranah internasional terlihat wara-wiri di lokasi OOC seperti John Kerry dari Amerika Serikat hingga Xanana Gusmao dari Timor Leste hingga public figure Indonesia seperti Kaka Slank dan Nadine Chandrawinata.

Ada banyak pengakuan penting dari peserta seperti dari AE. Archbishop Peorro Pioppo, Ambassador of the Holy See, Presiden Palau, Wakil Presiden Seychelles, Perwakilan Sultanat Oman, termasuk pengakuan dari perwakilan Pemerintah Thailand.

“Kami telah membuat kesalahan (di bidang perikanan), kami bisa belajar dari itu.” katanya. Sementara Hamed Said, Al-Oufi dari Kementerian Perikanan Sultanat Oman mengatakan ada banyak aspek yang perlu ditangani dengan baik terkait keberlanjutan fungsi laut kita.

“Pada isu perikanan, keamanan laut, perbaikan tata kelola di pesisir, pengelolaan stok sumberdaya, pengembangan mata pencaharian hingga pentingnya implementasi Blue Economy,” katanya jelang penutupan konferensi.

***

Acara tersebut berlangsung sukses dan disebut dihadiri tidak kurang 4 ribu peserta, jauh dari target semula. Mereka datang dari berbagai negara, organisasi internasional, LSM, lembaga riset kelautan, swasta hingga aktivis lingkungan dunia. Dilaporkan ada 143 perwakilan negara yang datang.

Selama proses pelaksanaan OOC ‘dipanen’ 287 komitmen nyata terhadap pelestarian lautan tersebut dengan nilai lebih dari 10 miliar dolar AS. Teridentfikasi pula kebijakan dan praktik konservasi pada 14 juta kilometer persegi Kawasan Konservasi Laut.

“Jumlah ini melebihi harapan kami. Kami berterimakasih atas kontribusi kolektif Bapak Ibu sekalian dalam menentukan masa depan laut dan isinya, agar lebih lestari dan dikelola secara berkelanjutan,” ucap Susi Pudjiastuti dalam sambutannya pada Global Ocean Leadership Panel, salah satu rangkaian acara OOC 2018, (30/10).

Acara yang diikuti (dok: istimewa)

Beberapa temuan

Terdapat enam isu yang dipaparkan mulai dari ruang konferensi, presentasi pleno tematik, side event hingga pameran informasi dan teknologi. Enam isu yang telah dibahas yaitu penanganan sampah plastik yang mengalir ke laut.

Berdasarkan temuan yang ada, dapat disimpulkan bahwa pembahasan isu ini sangat menarik dan telah diikuti banyak peserta. Ada dialog dan ‘side event’ yang menunjukkan isu dan solusi yang telah difasilitasi terkait isu sampah dan laut sebagaimana dipresentasikan oleh perwakilan dari Norwegia.

Kedua adalah berkaitan penanganan praktik kejahatan di laut seperti IUUF dan destructive fishing di perairan pedalaman. Baik yang ditempuh oleh badan dunia seperti FAO maupun Pemerintah RI melalui Satgas 511.

Yang ketiga adalah penataan kawasan konservasi laut yang saat ini jumlah atau luasan kawasan konservasi laut di dunia relatif kecil dibandingkan darat.  Ini juga menarik sebab mereview status dan tantangan pengelolaan kawasan konservasi yang telah dicanangkan. Ada banyak kekhwatiran tentang efektivitas pengelolaan termasuk masa depan pembiayaan kawasan konservasi.

“Tapi yang lebih penting adalah bagaimana memastikan partisipasi masyarakat dalam kawasan lindung tersebut sebab selama ini jumlah area konservasi sangat besar tetapi belum ada sinergi dan harmoni pengelolaan,” kata Abdi saat mengikuti presentasi area konservasi laut Indonesia yang dipresentasi Suseno dari KKP.

Perwakilan masyarakat di OOC 2018 (dok: istimewa)

Yang keempat adalah pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Ada beberapa event yang menarik selain pleno yaitu presentasi Presiden Palau, Presiden Syeichelles, hingga presentasi perwakilan masyarakat adat dari Raja Ampat yang berbagi perspektif tentang perlunya aksi bersama menjaga ekosistem laut.

Kelima terkait isu perubahan iklim. Ini berkaitan dengan pentingnya menjaga bumi dari perubahan iklim, bagaimana mendorong adaptasi masyarakat dan parapihak terkait kesiap-siagaan bencana dan penguatan daya tahan masyarakat.

Keenam, secara keseluruhan, apa yang dibahas di OOC tersebut mengarah pada aplikasi pendekatan Blue Economy yaitu menjaga laut agar dapat memberikan manfaat jangka panjang karena dikelola dengan bijaksana. Laut bisa menjadi penyedia lapangan kerja yang lebih efisien dan berdayaguna.

“Apa yang dilakukan di negara kami melalui kolaborasi pengelolaan ekosistem seperti terumbu karang dan mangrove tujuannya untuk mewujudkan apa yang kita sebut sebagai Blue Economy,” kata Wakil Presiden Syeichelles, Vincent Meriton.

Anggota ISKINDO Bali bersama Menteri Susi dan Retno (dok: istimewa)

Laut dan inovasi teknologi

Ada banyak booth atau side event yang menyita perhatian. Mulai dari booth donor, LSM lingkungan hingga perusahaan penyedia layanan data informasi kelautan. Salah satu yang menyita perhatian adalah booth yang berbagi ragam teknologi, sistem data dan informasi serta program kelautan. Di antaranya organisasi Mercator Ocean International dan Baron.

Menurut Fabrice Messal, manajer edukasi dan pelatihan Mercator, organisasi ini berpusat di Ramonville-Saint-Agne, Prancis dan sejak tahun 2009, telah berkontibusi dalam menjadikan Eropa sebagai pusat riset kelautan dunia terutama melalui program Copernicus.

Copernicus adalah program yang fokus pada pemantauan dan observasi bumi atau daratan Eropa yang sebelumnya disebut GMES atau Global Monitoring for Environment and Security. Ini adalah salah satu dari dua program utama Eropa bersama Galileo.

Tujuannya memberikan Uni Eropa otoritas dan kemampuan operasional melalui beroperasinya fasilitas observasi berbasis ruang dan in situ, yaitu pembacaan atmosfer, lautan dan situasi di permukaan. “Yang kedua adalah mengoperasikan 6 sistem yang berkaitan dan dengan pemantauan lingkungan lautan, atmosfer, perkembangan daratan, situasi darurat, keamanan dan perubahan iklim,” jelas Fabrice.

Fabrice menyatakan bahwa Komisi Eropa sepakat untuk mendukung kegiatan itu melalui proyek bernama MyOcean yang dikelola Mercator Ocean bersama 60 mitra dan tersebar di 28 negara.

Booth Satgas 115 (dok: istimewa)

Pada 11 November 2014, Komisi Eropa telah menyepakati perjanjian dengan Mercator Ocean untuk menyiapkan Copernicus Marine Service yang dimulai pada bulan April 2015 hingga 2021.

Tujuannya, jelas Fabrice, adalah menyiapkan akses informasi terbuka, terpercaya, berkaitan informasi saintifik ragam aspek fisik dan situasi biogeokimia dari seluruh bagian bumi, di atas dan di bawah.

“Termasuk temperatur, arus, kadar garam, ketinggian air laut, situasi es, warna air, klorofil dan lain-lain,” ujarnya.

“Ada dua bagian utama berkaitan pemantauan ini, yang pertama, infrastruktur. Yaitu bagaimana mengembangkan program satelit serta in situ. Kedua adalah bagaimana mendiseminasikan data. Semua data akan dibagikan ke kota-kota melalui 6 layanan yang disebutkan sebelumnya,” kata Fabrice.

“Ujung semua ini adalah berjalannya apa yang disebut Blue Economy,” katanya. Blue Economy yang dimaksuf secara sederhana adalah pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan, menyejahterakan, melalui kerjasama mulitpihak.

“Kita ada aplikasi yang bisa mendeteksi misalnya arus, meriset cuaca atau iklim, atau kondisi sumberdaya laut. Arus dan warna laut bisa kita buatkan animasi dan bisa dipantau. Kita juga bisa melacak pergerakan sepeti sampah plastik di laut. Melalui animasi, kita bisa melacak konsentrasi plastik di lautan,” pungkasnya.

Anggota ISKINDO yang kini kerja untuk TNC bersama Xanana Gusmao (dok: istimewa)

Booth kedua adalah Baron ‘Intelijen Cuaca’ yang ada di dekat Mercator Ocean. Menurut Kevin North, Global Business Development Manager untuk Asia, Baron didirikan pada tahun 1988. Tujuannya untuk menyampaikan ‘intelijen’ cuaca kritis kepada pelanggan atau pihak-pihak yang membutuhkan ‘ramalan cuaca’.

“Perusahaan kami menyediakan radar cuaca, perangkat lunak visualisasi, pemodelan hidrologi hingga solusi digital yang dapat memberi manfaat bagi para pengguna,” kata Kevin. Kantor pusat Baron ada di Huntsville, Alabama dan memiliki sekitar 100 karyawan.

“Selama 20 tahun terakhir, perusahaan telah memasang, meningkatkan, memperbarui, atau menyediakan layanan untuk lebih dari 325 radar cuaca secara global, termasuk upgrade dual-polarisasi NEXRAD untuk NOAA,” imbuhnya.

Apa yang dibayangkan oleh Baron ke depan, menurut Kevin adalah memastikan bahwa setiap warga negara, unit bisnis, dan setiap keluarga dilindungi dari cuaca buruk. “Ini yang dapat kami kontribusikan untuk semua pihak,” tutupnya.

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *