Pakar ISKINDO Paparkan Isu Perubahan Iklim dan Spesies Invasif di WCMB Montreal

Dr. Hawis Madduppa (dok: istimewa)

ISKINDO – Periset Kelautan Indonesia dari IPB yang juga anggota Dewan Pakar ISKINDO, Dr. Hawis Madduppa, S.Pi, M.Si menjadi peserta sekaligus pembicara pada forum strategis ‘The World Conference on Marine Biodiversity (WCMB)’ atau Konferensi Dunia atas Biodiversitas Kelautan ke-4 yang berlangsung pada tanggal 13 hingga 16 Mei 2018 di Montreal Kanada.

Acara 3 atau 4 tahunan tersebut menghadirkan peneliti kelautan terkemuka dan mendiskusikan beragam isu dan solusi kelautan dunia, merefleksikan hasil-hasil penelitian, praktik pengelolaan serta peran biodiversitas dalam menjamin keberlanjutan ekosistem lautan ke depannya.

Tahun ini, beberapa pembicara kunci di antaranya Prof. Emma Johnston, Dean of Science, University of New South Wales, Sydney, Australia, Dr. Lindwood Pendleton dari Global Ocean Lead Scientist untuk  World Wide Fund for Nature hingga Dr. Amanda Bates dari University Research Associate Professor, Memorial University of Newfoundland

Konferensi tersebut didukung organisasi kelautan ternama Kanada dan dunia, mulai dari Canadian Healthy Ocean Network hingga organisasi sekelas ‘Konvensi atas Konservasi Spesies Fauna Migratory Alam Bebas’.

“Tidak kurang 1.200 peserta hadir. Bukan hanya peneliti atau praktisi tetapi juga pengambil kebijakan level dunia. Ada ragam isu dan solusi di sana,” kata Hawis kepada admin ISKINDO.

Dr. Hawis yang juga dosen Kelautan di IPB itu memboyong isu perubahan iklim dan keberlanjutan ekosistem terumbu karang Indonesia. Judul makalahnya, ‘Mengungkap Ledakan  Invasif Spesies Sponge dan Ascidian pada Terumbu Karang di Indonesia dengan Menggunakan Pendekatan Genetik.

Judul tersebut membungkus hasil penelitian yang dilakukan oleh tim Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB yang didanai oleh Kementerian Ristek Dikti melalui skema riset Kerjasama Luar Negeri.

Tim terdiri dari Hawis Madduppa, Beginer Subhan, Mustami Yuda Sastris, Muhammad Reza Faizal, Nurlita Putri Anggraini, Januarizka S Pratomo serta disokong oleh peneliti asal Jerman, Peter Schupp dan Carsten Thoms.

Di depan beragam latar belakang peserta, Hawis yang juga anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) ini menyebut beberapa contoh terkini mengenai invasi spesies pada ekosistem terumbu karang yang menurutnya membutuhkan penelitian dan penanganan lebih lanjut dan lebih mendalam.

Hawis menyebut betapa terumbu karang Indonesia terlihat indah karena keberadaan filum Sponge sebagai asosiasi penopangnya.

“Beberapa pihak bahkan menyebut ada 16 ribu spesies spons. Indonesia adalah hotspot diversitas spons,” katanya.

Dipaparkan Hawis bahwa banyak spons menghasilkan produk bawaan yang berpotensi menjadi obat-obatan dari laut. Spons juga menjadi sangat penting bagi ekosistem dengan berasosiasi spesies karang lainnya.

Perubahan iklim dan kelimpahan fauna invasif

Ihwal penelitiannya pada iklim ekstrem dan dampaknya pada asosiasi terumbu karang tersebut relevan dengan informasi yang diperolehnya di bulan September beberapa tahun lalu. Peneliti Australia merilis temuan di jurnal “Global Change Biology” yang menanyakan dengan nada skeptis, “Mungkinkah terumbu karang menjadi terumbu spons karena perubahan iklim?”.

Dipahami oleh Hawis bahwa hingga kini, ada banyak penelitian terutama terkait spons di beberapa tempat di Indonesia. Demikian pula wabah penyakit karang sejak spons menutupi karang dengan lapisan tisu hitam.

Dia meyakini bahwa ada indikasi kuat jenis ‘Terpios hoshinota’ secara nyata tak terlacak atau tidak dilaporkan di Asia Tenggara dan nampaknya ‘berhasil’ tumbuh berlebihan di terumbu karang dalam tekanan.

Suasana presentasi (dok: istimewa)t

Hal tersebut menimbulkan tanda tanya bagi Hawis dan timnya.

“Apakah ada keterkaitan antara kedua temuan tersebut? Apakah dengan banyaknya kehadiran spong pembunuh karang H. hoshinota di Indonesia berkait juga dengan dampak perubahan iklim?,” tanya Hawis.

Dia melanjutkan. Jika iya, seberapa serius ancamannya pada diversitas terumbu karang dan apa yang bisa dilakukan?

Salah seorang mitra Hawis, Tom Schils, Profesor pada University of Guam, USA, telah melakukan observasi pada ragam spesimen spong yang ditemukan di Kepulauan Mariana.

Temuan tersebut menunjukkan kehadiran spons dalam jumlah besar bersamaan dengan kehadiran massal ‘multicellular filamentous cyanobacteria.’

Tom Schils telah mengamati bahwa spong menjadi begitu sukses bertumbuh manakala berasosiasi dengan Cyanobacteria.

Jadi, ada interaksi kompleks antara yang menginvasi, spons pembunuh karang, karang yang tumbuh berlebih dan cyanobacteria yang kemungkinan dapat berasosiasi satu sama lain.

“Perubahan iklim mungkin saja dapat berdampak pada ketiga unsur itu,” sebut Hawis sebagaimana disampaikannya di konferensi tersebut.

Menurutnya, meskipun secara umum telah diyakini bahwa hal tersebut berdampak pada karang dan dengan itu akan menguatkan dua faktor lainnya namun sulit untuk menyatakan yang mana yang terpapar perubahan iklim — pada spons atau cyanos.

Apa yang membuat sistem itu menjadi lebih kompleks adalah nampaknya ada faktor lain yang berdampak pada kemampuan kompetitif ketiga faktor atau pemain kunci tersebut semisal kegiatan-kegiatan manusia ‘anthropogenic activities”.

“Dan di sini, sekali lagi sulit dikatakan yang mana beberapa dari ihwal ini yang mungkin memperkuat satu pemain di kompetisi itu,” sebutnya.

Nampaknya, interaksi ekologis dan dampak dari faktor eksternal lebih kompleks pada spons dan cyanobacteria terhadap karang.

“Dan sebagai hal yang menarik adalah bahwa sistem tersebut lebih kompleks sebagaimana ditunjukkan di sini utamanya berkaitan kedua spong dan karang hidup bersimbidosis dengan mikroorganisme yang mungkin saja dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal,” papar Hawis.

Ditambahkan bahwa ada situasi yang menunjukkan akumulasi laporan dari invasi Spons pembunuh karang jenis Terpios hoshinota pada karang di Indonesia karena kurangnya pengetahuan pada sebaran ancaman.

“Misalnya jalur-jalur invasi, faktor pengungkit, mekanisme kerja, interaksi ekologi spons hingga kemungkinan aksi sebaliknya, counteractions?,” jelas Hawis.

Dr. Hawis saat presentasi (dok: istimewa)

Empat model

Ada empat model yang disarankan Hawis dan timnya untuk memahami pola dan mekanisme kejadian tersebut.

Pertama, memantau invasi spons dan potensi pemicunya. Lalu, melakukan identifikasi morpho-genetic dan struktur genetiknya. Kemudian menginvestigasi allelophatic dan interaksi simbiotik yang ada serta yang keempat mengidentifikasi senyawa bioaktif penyusunnya.

Lokasi yang menjadi fokus perhatian tim Hawis adalah sebaran terumbu karang dan hewan invertebrata yang tumbuh pesat di karang hidup. Beberapa lokasi yang diteliti seperti Donggi di Luwuk, Pulau Senoa di Natuna, Bali, Pulau Belanda, Pulau Dapur, Pulau Kayuangin Bira, Balikpapan, Bali, Lombok, sampai ke Raja Ampat.

Teridentifikasi ada 13 jenis spons yang tumbuh pesat di karang hidup. Mulai dari jenis Strongylophora sp., Iricinia sp., Terpios hoshinota, hingga Mycale microsigmatosa. Sementara ada 5 spesies Ascidian yang tumbuh pesat di karang hidup. Mulai dari Diplosoma simile hingga Diplosoma Lissoclinum sp.

Pada presentasi Hawis di konferensi tersebut dia menyimpulkan bahwa memang banyak spons dan spesies asidia “sea squirt‘ telah menjadi tersebar luas dan menjadi invasif di hampir semua dasar laut dunia.

Meski demikian, umumnya, status masuknya tersebut ditunjukkan dengan kelimpahan Haplotype yang rendah pada daerah yang diinvasi sebagaimana ditunjukkan di beberapa lokasi seperti disebutkan di atas.

“Hal tersebut bukan untuk kasus jenis Didemnum sp. Dalam studi ini dapat disebutkan bahwa spesies tersebut adalah jenis spesies asli seperti di Raja Ampat,” jelasnya.

Di konferensi Biodiversitas Kelautan Dunia yang membanggakan bagi tim Hawis itu, dia menyarankan adanya studi lanjutan yang dapat dilakukan untuk melihat melihat lebih jauh spesies invertebrata yang ada di pelabuhan-pelabuhan atau daerah tambatan perahu. Perlunya menginvestigasi daya tahan terumbu karang pada spesies invasif.

“Pada situasi demikian, dengan kepedulian, pendidikan dan kegiatan survey baseline akan dapat membuktikan hal-hal mana yang dapat diterapkan untuk konservasi surga bawa laut yang luar bisa penting untuk biodiversitas bumi ini,” pungkas jebolan S3 Universitas Bremen dalam bidang biologi laut dan bioteknologi ini. (KAS)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *