Palung Kematian: Pengakuan Para Mantan Pembius Ikan di Selayar

Palung Kematian: Pengakuan Para Mantan Pembius Ikan di Selayar

Jakarta, ISKINDO – Kamaruddin Azis, ketua Bidang Komunikasi, Organisasi dan Ketenagakerjaan DPP ISKINDO bertandang ke kawasan Taman Nasional Taka Bonerate bersama tim Biorock Indonesia dan UNDP Indonesia, (4-6 Juni 2018). Kepada pembaca sekalian, dia membagikan pengalaman para mantan pelaku destructive fishing  — momok bagi kawasan konservasi seluas tidak kurang 200 ribu hektar, di tengah Laut Flores ini. Berikut laporannya.

***

Di pertengahan tahun 90-an, kawasan Taka Bonerate adalah surga bagi pembius ikan. Kala itu, kapal-kapal asal Hongkong wara-wiri menyapu perairan atol ketiga terbesar di dunia itu dan menjadi ‘collecting vessel’ untuk ikan-ikan hidup seperti kerapu sunu, Napoleon, lobster.

Di tahun-tahun tersebut, hampir semua pulau memiliki tidak kurang 3-5 keramba tampung. Di sinilah para pembius berkedok nelayan pancing dan bubu tindis menjual ikan tangkapannya. Berton-ton ikan hidup dibawa ke luar Selayar, ke Bali, ke Surabaya hingga langsung ke Singapura atau Hongkong.

Jika setiap keramba mampu menampung 500 kilo ikan hidup seperti kerapu sunu sebelum dijemput kapal pengangkut, dikirim sebanyak dua kali sebulan maka sekurangnya, 1,5 ton ikan perkeramba, atau 4,5 ton perpulau.

Jika ada 5 pulau yang memiliki keramba katakanlah 3 unit maka setiap bulan ada 13,5 ton ikan hidup yang diboyong keluar Selayar. Nilai jual ikan ini di pulau dibanderol Rp. 200 ribu kala itu. Jika ini ditotal maka nilai jual ikan kerapu perbulan dalam kawasan Taka Bonerate sebesar Rp. 27 miliar! Bayangkan nilainya jika ini termasuk pulau-pulau di sekitar Taka Bonerate seperti Bonerate, Jampea, Karompa, Kayuadi hingga Pulau Madu!

Nilai ekonomi seperti inilah yang menggoda selera melaut, memancing dan menyelam para nelayan di dalam Taka Bonerate. Yang mengundang selera nelayan-nelayan dari pesisir dan pulau-pulau Makassar, Takalar, Sinjai untuk datang ke Taka Bonerate kala itu.

Implikasi merebaknya praktik pembiusan ikan itu berdampak ke keselamatan jiwa para nelayan penyelam. Tidak sedikit dari mereka meregang nyawa karena risiko penyelaman. Terkena dekompressi dan terlalu lama dalam kolong air.

Di Taka Bonerate, di tahun 90-an, di antara Pulau Lantigiang dan Pulau Rajuni Kecil, pernah dilaporkan seorang warga yang keluar biji matanya karena kelamaan menyelam menggunakan kompressor.

Dia naik ke permukaan dengan terburu-buru setelah sebelumnya berjalan kaki di dasar laut dan memanen teripang. Ujung selang yang dialiri udara dari kompressor dan terpasang di mulutnya membuatnya lengah.

“Dia kelamaan di laut lalu naik terburu-buru karena ada masalah di kompresor,” kata sumber di Pulau Rajuni Kecil kala itu.

Di Pulau Jinato, Taka Bonerate, pulau yang menjadi lokasi tugas penulis dilaporkan mempunyai warga jadi korban penyelaman. Belasan orang lumpuh sejak awal tahun 90-an. Sebagian dilaporkan meninggal.

Demikian pula di Pulau Kayuadi, Appatanah, Tambolongan, di barat Jinato. Penyelam-penyelam Suku Bajo yang selama ini disebut mahir tanpa alat hingga kedalaman 10 meter mulai akrab dengan kompressor. Merekapun tak luput sebagai korban penyelaman.

Bermodal potas

Bahan bius ikan adalah senyawa Potassium cyanida. Inilah yang digunakan untuk melumpuhkan ikan kerapu sunu, kerapu, atau lobster. Potassium yang berbentuk kristal dimasukkan ke dalam wadah berisi air biasa.

“Satu biji potassium dimasukkan ke dalam jerigen berisi 30 liter air, lalu disimpan semalamam. Kalau kita masukkan sore hari, disimpan, besok pagi sudah bisa aksi,” kata Tison, mantan pembius dari Pulau Pasi’, Selayar.

“Air yang sudah melarutkan potassium itu kita masukkan ke botol plastik yang bisa disemprotkan ke arah ikan. Bila kena ikan, dia akan pingsan,” kata Tison.

Menurut hasil penelitian, karang yang telah terkena potassium sianida akan mengalami perubahan. Lendirnya hilang dan berubah warna menjadi warna putih, lalu mati.  Ini akan berdampak luas jika potassium sianida dalam jumlah besar terbawa arus air dan mengenai karang lainnya. Kematian massal akan menyerang karang.

Lalu, sejak kapan dan bagaimana praktik penggunaan potassium sianida merebak di Selayar?

Siapa saja yang terlibat dan bagaimana memutus jalur distribusinya?

Cerita Tison

Saya mengobrol dengan pria Selayar ini ketika mengantar tiga orang penyelam menuju Perairan Gusung, Desa Bontolebang, 02/06.  Dia pemilik perahu bercadik yang didisain khusus untuk wisata diving, snorkeling hingga ‘sightseeing’.

Namanya Tison (30). Pemilik tiga perahu yang bisa digunakan untuk sesiapa yang mau pelesiran ke pesisir Selayar dan Pulau Pasi’, pulau di beranda Kota Benteng, ibukota Selayar.

“Usia 16 sudah ikut operasi (membius ikan) di Taka Bonerate, Jampea, Pulau Bembe, Rajuni, Taka Sani-Sani, Polassi, Bauluang, Nambolaki, Lambego sampai Pulau Karompa,” bebernya tentang nama-nama pulau dan perairan yang dirambahnya.

“Saat itu kami operasi di wilayah Laut Flores. Hampir semua kecuali di Tambolongang karena ada Daeng Mudda yang keras sekali orangnya,” katanya.  Daeng Mudda adalah warga Pulau Tambolongang yang menjadi korban dalam konflik antara nelayan konservasi dalam desa dan para pelaku destructive fishing di tahun 2004 yang menghebohkan itu.

“Setahuku bahan bius itu namanya potas, dibawa dari Makassar, kadang lewat bus atau kapal-kapal yang datang dari sana,” jelas pria yang pernah melihat hasil tangkapan ikan bius jenis Napoleon dengan bobot 87 kg.

“Saya ingat timbangannya 87 kilogram dan dibawa ke Pulau Jampea. Ada penampungan ikan hidup di Perkampungan Air Lompa, Jampea,” ujarnya.

Masa-masa pengembaraan Tison di Laut Flores sebagai pembius ikan berlangsung antara tahun 2004 hingga 2006. Dia mengaku menyelam hingga kedalaman sampai 30 depa atau sekira 35 meter.

“Tugas saya bawa obat bius. Jadi saya pembawa obat saja. Bawakan ke teman. Jadi saya menyelam juga. Satu selang dari atas, kemudian dalam laut bercabang dua. Panjangnya 60 meter dibagi dua,” papar Tison.

Praktik penangkapan ikan dengan bius itu menurut Tison sangat berisiko karena seorang penyelam bisa saja mengejar ke laut dalam dan tak sadar telah semakin jauh padahal ini berisiko pada paru-paru serta bisa berdampak kelumpuhan hingga kematian.

Tison yang insyaf (dok: Kamaruddin Azis)

Praktik bius yang dilakukan Tison dan temannya adalah dengan menyasar batu-batu besar, lubang-lubang dan kerumunan karang di laut antara 5 hingga 20 meter.

“Setelah kita lihat ada ikan dalam lubang, kita semprotkan cairan potas ke dalam. Ikannya keluar dan kayak pusing tapi tetap bergerak lari,” katanya.

Risiko dan bahaya mengintai ketika penyelam mendapat ikan yang masih bergerak aktif dan mencoba lari hingga ke palung terdalam.

“Kadang teman mengejar hingga dalam, itu hanya dibatasi oleh panjang selang kompresor, jadi semakin panjang selang semakin jauh menyelam,” kata pria yang mengaku dapat gaji bulanan hingga Rp150 ribu kala itu.

“Pernah dapat paling banyak 450 ribuan,” kenangnya.

Pria yang mengaku hidungnya sempat mengeluarkan darah ketika pertama kali menyelam kompresor ini mengaku lambat laun melakoni sebagai bagian dari praktik bius karena tidak ada pilihan lain. “Saya sempat takut juga tapi lama kelamaan biasa juga,” imbuhnya.

Tentang ikan hasil biusnya, Tison mengaku dijual ke pengusaha di Benteng.

“Namanya Ahong, setahuku asal Hongkong dan perusahaannya ada di Makassar,” kata pria yang kini tinggal sama kedua orang tuanya bersama ketiga anaknya.

Dia juga masih ingat teman-temannya yang pernah jadi pembius seperti Rudi, Tamrin, Uccang. “Taman-teman saya da yang ke Indonesia bagian timur, jadi penjaga keramba, ada pula yang tinggal di kampung jadi nelayan atau pedagang. Mereka sudah sadar,” sebut pria yang bernah merantau ke Jakarta dan Bangka ini.

Di ujung obrolan, Tison menyebut bahwa manfaat ekonomi yang dirasakan Tison tak sebanding dengan risikonya.

“Tdak sampai sebulan operasi kami kembali ke kota, kadang dapat uang 10 juta. Itu yang dibagi-bagi, ke pemilik perahu, ke anggota lain,” katanya lagi.

Menurut Tison, maraknya bius ikan di Selayar di tahun 90 hingga 2000-an karena dipicu adanya perusahaan pembeli yang standby di Kota Benteng Selayar, mereka mempunyai armada penampung dan dilengkapi radio komunikasi antar pulau atau SSB dan terhubung dengan keramba-keramba penampung dan kapal ekspor dari Hongkong.

“Dulu, di Selayar tahun 2000-an ada perusahaan milik Mister Ong. Ada pula kapal ikan namanya KM Hidup Jaya dan KM. Pancasona,” ingatnya.

“Saat operasi bius itu, kalau sedang banyak nelayan di satu perairan yang kami kunjungi, kami takut pada pembom ikan,” katanya.

“Kami tidak berani turun duluan, jangan sampai kami kena bom saat dalam air,” sebuat pria yang mengaku pernah pula menjaring ikan hiu di Kupang setelah tidak lagi membius.

“Sekarang, kami tidak lagi menangkap ikan dengan bius setelah pemilik kapal yang membiayai operasi tiba-tiba berhenti karena alasan keluarga,” katanya.

Dia menceritakan alasan keluarga yang dia maksud dan terkesan lucu. Bos yang mempekerjakan Tison dilarang melaut lagi karena istrinya marah besar setelah ketahuan mau menikah lagi.

***

Taka Bonerate, 5 Juni 2018.

Pria itu menutup separuh wajahnya dengan baju kaos. Kepalanya menyembul.  Dia menjadi anak buah kapal yang membawa peneliti dari Biorock Indonesia dan UNDP Indonesia yang sedang menjajaki peluang instalasi biorock di rataan terumbu dalam kawasan Taka Bonerate di musim tenggara yang dingin dan bergelombang.

Pria kelahiran tahun 1969 itu bernama Salamuddin. Dia mengaku sudah insaf untuk tidak lagi membius ikan.

“Dulu, kalau jagoan membius di Latondu, sayami kapang,” katanya dengan aksen Bugis saat ditemui dalam perjalanan dari Pulau Rajuni Kecil ke Pulau Tarupa, Taman Nasional Taka Bonerate, 6/6. Maksudnya, dialah yang pantas diganjar predikat jagoan bius karena pengalamannya yang intens dalam membius ikan.

Berdomisili di Pulau Latondu, Taman Nasional Taka Bonerate, kawasan konservasi yang resmi beroperasi di tahun 1992, Salamuddin mengaku menjadi kader konservasi bersama unit kerja Balai TN-Taka Bonerate sejak beberapa tahun terakhir.

“Saya mulai menyelam di tahun 1996. Saat itu sudah mulai kenal bius,” katanya terkait pekerjaan yang penuh risiko itu.

Sala’ bercerita bahwa membius ikan adalah pekerjaan yang sangat berisiko.

“Nyawa taruhannya pak,” katanya.

Dia bilang demikian karena pernah suatu ketika saat beroperasi di Labuan Bajo dia mendapati banyak penyelam meninggal hampir bersamaan.

“Tahun-tahun 90-an itu saya pernah ke Labuan Bajo, cari ikan di sana dengan bius,” ungkapnya.

“Di Labuan Bajo banyak sekali penyelam mutiara yang mati, penyelam teripang dan pembius ikan juga. Saya pernah menyelam di sana, berenam waktu itu, untung kami selamat,” ungkapnya.

Tak hanya menyebut peristiwa di Labuan Bajo itu, Salamuddin juga mengakui kalau korban penyelaman di Taka Bonerate juga tidak sedikit termasuk di pulaunya, pulau Latondu.

Dia mengatakan bahwa maraknya pembiusan kala itu karena adanya kompressor.

“Ini yang dipakai menyelam, oleh pembom ikan, pembius juga,” katanya. Sala’ tak menampik bahwa saat ini praktik pemboman ikan dan bius masih ada di Taka Bonerate meski menurutnya tak sehebat tahun 90-an.

“Sekarang saya ikut juga patroli sama jagawana (Polhut) sampai ke Taka Gantarang. Sekarang saya bertanggung jawab mengawasi Taka Dangka dan Taka Latondu Kiddi,” kata pria yang tinggal di Pulau Latondu ini.

Tahun-tahun 90-an hingga tahun 2000-an, Salamuddin menganggapnya sebagai tahun dimana pemboman dan pembiusan ikan dalam kawasan sangat marak padahal saat itu ada program konservasi seperti COREMAP.

“Sebagian memang sangat ketat tapi sebagian lainnya masih longgar, terutama di bagian selatan Taka Bonerate,” katanya.

Salamuddin (dok: Kamaruddin Azis)

Menurut pengalaman penulis yang beberapa kali berkunjung ke Pulau Latondu di pertengahan tahun 90-an, terdapat beberapa kasus warga Latondu yang meninggal karena kasus bom dan bius.

Tak hanya itu, mereka juga banyak terkena dampak dekompressi penyelaman. Jika dekompressi banyak dialami oleh mereka itu karena permintaan teripang yang sangat besar yang dihembus oleh pedagang dari Makassar dan Galesong. Para pembeli ini langsung datang ke pulau dan menunggui nelayan pulang.

Taka Bonerate nan rentan

Pulau Selayar dan pulau-pulau yang bertebaran di sekitarnya adalah rumah bagi ikan-ikan karang. Dengan luas terumbu karang mencapai ribuan – Taka Bonerate mempunyai luasan terumbu tidak kurang 2000 km2 – ditambah hamparan terumbu di pulau-pulau seperti Jampea, Bonerate, Kayuadi, Tambolongan, Pulau Madu, Karompa hingga Kakabia maka Selayar adalah target eksploitasi yang menggiurkan.

Kawasan ini menjadi incaran nelayan-nelayan dari Makassar, Sinjai, Takalar, Madura hingga dari Nusa Tenggara dan Bali. Tahun-tahun 90-an nelayan Bali mengincar penyu, sementara nelayan dari Sulawesi Selatan lainnya mengincar ikan karang melalui bom dan bius.

Maka kawasan ini disebut segitiga kaya Sulawesi – Nusa Tenggara dan Bali. Maraknya illegal fishing atau destructive fishing ini tak serta merta hilang sebab permintaan ikan hidup masih relatif tinggi. Praktik ini masih berlangsung dan membutuhkan solusi komprehensif.

Asri, anggota Sileya Scuba Divers Selayar yang selama ini getol mengkampanyekan konservasi lingkungan pesisir dan laut Taka Bonerate menyebut bahwa ancaman terumbu karang melalui bom dan bius di Selayar merupakan ancaman nasional karenanya dibutuhkan pendekatan yang berskala nasional pula.

“Isunya bukan Selayar lagi sebab ini melibatkan banyak pelaku, pedagang, bahkan importir pupuk bahan bom itu,” katanya.

Bom ikan selama ini datang dari Malaysia melalui jalur-jalur tikus seperti di perbatasan Sebatik atau di Tawao yang masuk ke Pare-Pare atau Makassar. Sementara yang datang dari jalur selatan datang dari Batam atau Surabaya yang menyaru di kapal-kapal barang.

Bius setali tiga uang, meski lebih praktis dan mudah pendistribusiannya, dari Makassar atau dari jalur-jalur pelayaran karbo Nusa Tenggara ke Taka Bonerate.

Menurut Asri, isu destructive fishing sudah sering dibahas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan KKP sebab praktik ini memang kompleks dan melibatkan pelaku lintas pulau, provinsi bahkan negara lain.

Selain narasi pengalaman di atas, solusi juga sudah dibahas bersama setidaknya di tingkat Selayar, kabupaten dimana Taka Bonerate terbentang.

Tindakan pencegahan memang diperlukan sebab warning telah disampaikan oleh para ahli. Hingga akhir tahun lalu, hanya ada sekitar 29,79% terumbu karang di Indonesia yang kondisinya baik hingga sangat baik.

“Sekitar 6,39% terumbu karang masih dalam kondisi sangat baik dan 23,40% berstatus baik. Sisanya, yakni 35,06% berstatus kondisi cukup dan 35,15% kondisi jelek. Data terbaru ini berdasarkan penelitian pada 2016,” demikian kutipan hasil penelitian LIPI.

Kondisi tersebut jelas semakin buruk dibanding tahun-tahun sebelumnya, upaya rehabilitasi dan pengelolaan tak sebanding dengan tekanan yang mendera karang. Akivitas manusia di usaha perikanan jadi kambing hitam.

Terkait solusi ke depan, khusus untuk lokus Selayar, Asri membeberkan bahwa pada 27 November 2017, organisasi WCS-IP bersama Balai TN Taka Bonerate dan beberapa instansi telah membentuk forum pengawasan dan penanganan Illegal Fishing di dalam Taka Bonerate.

“Telah ditetapkan oleh Bupati Kepulauan Selayar dalam suatu Surat Keputusan Nomor 685/XI/TAHUN 2017 bertanggal 20  November 2017,” sebut Asri yang juga personil Balai TN Taka Bonerate ini.

Pada pertemuan tersebut terdapat 4 poin penting yang disepakati.

Penulis saat berada di Pulau Tinabo, Taka Bonerate (dok: istimewa)

Yang pertama membentuk forum pengawasan dan penanganan illegal fishing di wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Kedua, forum bertugas menyiapkan rencana kerja dan jadwal pengawasan, mengadakan pertemuan rutin dan mengkoordinasikan rencana kegiatan dan mengevaluasi kegiatan dalam hal pengendalian illegal fishing di Kabupaten Kepulauan Selayar,” papar Asri.

“Yang ketiga melaksanakan penyuluhan, pencegahan dan penindakan serta penanganan kepada masyarakat yang berkaitan dengan illegal fishing, sementara yang keempat adalah setiap instansi wajib mendukung segala sarana dan prasarana serta pendanaan yang dibutuhkan dalam melakukan tugas tersebut,” tambahnya lagi.

Seingat Asri, pada pertemuan tersebut juga dilaksanakan penandatanganan MoU yang melibatkan Kepala Balai TN Taka Bonerate, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Kapolres Kep. Selayar, Kasdim 1415 Kep. Selayar, Kasi Pidum Kajari Kep. Selayar, PSDKP Kep. Selayar, Danpos Angkatan Laut serta perwakilan Pemerintah Desa yang ada dalam kawasan TNTBR.

Sekarang, semua sudah jelas, isu dan solusi telah dipaparkan, ke depan, bagaimana memantau rencana aksi yang telah disepakati itu. Kalau tidak ada pemantauan, kita tentu sungguh khawatir bahaya penyelaman dan praktik destructive fishing ini akan terus berulang.

Jika berulang, janji Pemerintah untuk membangun masa depan bangsa dari laut hanya akan jadi pepesan kosong, bukan?

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *