Pinisi Bakti ISKINDO ke Palu-Donggala dan Tanggapan Kaum Muda

Pinisi Bakti ISKINDO ke Palu-Donggala dan Tanggapan Kaum Muda

Makassar, ISKINDO – Pinisi yang memuat sekurangnya 70 ton bantuan untuk korban bencana gempa dan tsunami Palu dan Donggala telah berlayar hari ini, tepatnya pukul 13.00 Wita dari Dermaga Lantamal Makassar, (06/10).

Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) dan Yayasan Makassar Skalia (YMS) yang memfasilitasi posko Peduli Palu Donggala dan didukung organisasi profesi dan perusahaan publik telah merampungkan pemuatan dan berkas administrasi pelayaran sejak kemarin sore. Bantuan tersebut datang berbagai organisasi, individu, perusahaan maupun unsur Pemerintah.

Menurut koordinator misi, M. Abdi Suhufan, kegiatan ini akan memakan waktu 10 hari pergi pulang dan diikuti 37 orang relawan. Mereka akan bahu membahu dalam penyediaan dan fasilitasi dapur umum, distribusi bantuan korban, pengambilan data drone di lokasi terpapar serta pemeriksaan kesehatan dan konseling bagi korban.

“Juga melakukan pendataan kerusakaan ekosistim pesisir dan laut, termasuk dampak bagi pemanfaat seperti nelayan atau petambak kalau ada,” tambah Abdi.

Selain mengutus relawan dan pinisi, ISKINDO juga telah mendirikan posko di Kota Palu, beberapa sukarelawan anggota ISKINDO di Palu, Gorontalo dan Manado dilaporkan telah siap menanti kedatangan pinisi tersebut termasuk sukarelawan.

Mendengarkan pengakuan sukarelawan

Ada yang menarik, ada sekira 50-an kaum muda yang bahu membahu menaikkan barang bantuan. Selama proses persiapan dan pengangkutan barang hingga ke lambung pinisi terlihat antusiasme publik dan solidaritas anak-anak mahasiswa terutama dari Ilmu Kelautan Unhas. Baik sejak penggalangan dana, koordinasi dari Posko ISKINDO dan YMS di Jalan Dahlia Makassar hingga ke Lantamal IV, siang dan malam.

“Kita sebagai manusia, sesama hamba Allah, tidak ada salahnya membantu saudara kita yang terkena dampak. Apa lagi ada saya dengar 1500-an sebagai korban,” kata salah seorang relawan bernama Ihsan asal Jalan Alauddin, Makassar.

Para sukarelawan pinisi bakti untuk Palu Donggala (dok: istimewa)

Ahmad Sajjad (22), mahasiswa Ilmu Kelautan Unhas yang ikut wara-wiri mengangkut barang dalam dua hari terakhir sebelum pinisi berangkat, ikut membagikan pendapatnya.

“Pinisi bakti untuk Palu dan Donggala ini adalah kegiatan kemanusiaan. Upaya kita membantu meringankan beban saudara kita di sana. Saya kira ini juga berhasil mengikat solidaritas keluaraga besar Ilmu Kelautan untuk sama-sama menyukseskan kegiatan ini,” katanya.

“Semoga kegiatan ini berjalan lancar sesuai rencana, tanpa hambatan, Tim yg berangkat diberikan kesehatan dan kekuatan di sana. Pergi pulang dalam keadaan sehat. JalasVeva JayaMahe,” ucapnya.

Ahmad Sahlan Ridwan (20), mahasiswa lainnya, berharap kepada tim pinisi yang berangkat menuju Palu agar dapat meringankan beban saudara di Palu dan Donggala. “Saya meminta maaf karena hanya bisa membantu mobilisasi barang hingga kapal dan mengantar hingga ke pelabuhan,” katanya.

Dian, mahasiswa Kelautan Unhas mengaku terketuk hatinya saat mendengar berita gempa bumi dan juga tsunami di Palu hingga Donggala.

“Kami sangat bersyukur pada kesempatan ini diajak bekerjasama dengan para alumni kami (ISLA UH) dan juga ISKINDO dalam mengumpulkan donasi untuk saudara kita. Kami sadar bahwa saat ini kami belum bisa membantu banyak dalam segi material, namun kami mengerahkan seluruh tenaga untuk membantu agar donasi yang di kumpulkan bisa tersampaikan dengan baik untuk para korban,” katanya.

Menurut Dian, dari awal dia dan kawan-kawan mahasiswa ikut menyortir barang dan donasi, kemudian packing hingga mobilisasi donasi ke kapal pinisi.

“Saya yakin untuk kesempatan ini tidak akan datang dua kali, dapat berkumpul bersama dan menjalin silaturahmi dengan alumni yang mungkin belum pernah saya temui sebelumnya. Menjalankan misi kemanusiaan walau hanya bermodalkan tenaga, bagaimana mengkoordinir barang dan lain sebagainya itu semua tidak bisa saya dapatkan di bangku perkuliahan,” tambahnya.

“Ada dua orang perwakilan dari kami Keluarga Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Unhas (KEMA JIK FIKP-UH) yang menjadi relawan dengan harapan bisa sedikit membantu para korban di sana. Salam untuk warga Donggala-Palu dari Mahasiswa Kelautan Unhas,” katanya lagi.

Ketua MSDC Kelautan Unhas, Hamzah (22) mengaku kegiatan bersama ISKINDO, ISLA dan YMS sangat luar biasa.

“Hanya dalam waktu beberapa hari saja, partisipasi berbagai kalangan sudah terlihat dengan banyaknya donasi yang masuk hingga menjelang keberangkatan,” kata mahasiswa yang percaya bahwa ketika kita membebaskan kesulitan orang lain maka kita juga akan dibebaskan dari kesulitan nantinya.

Hamzah berharap kegiatan ini dapat membuat korban bencana juga sadar bahwa masih banyak orang-orang di luar sana yang peduli  dan dapat mengurangi kesuliatan mereka.

“Tindakan yang nyata bisa memberikan harapan yg besar buat orang yang sedang mengalami kesulitan,” tambah Ichsan Ashari Achmad (20), mahasiswa lainnya.

Ahmad Husein Nyompa, yang juga ikut membantu mengatakan ke depan perlu lebih dimaksimalkan sebab sempat pula dialami kekurangan tenaga terutama untuk mobilisasi barang, pengaturan dan pencatatan barang kiriman. Terutama di awal pemuatan.

Khoirul Anam, mahasiswa Kelautan yang juga ikut dalam proses angkut barang mengaku kaget, barang yang datang sungguh banyak meski massa pun sangat banyak yang datang kemudian.

“Saya kira untuk kebutuhan dapur umum di Palu dan Donggala sudah siap jika melihat barang yang dibawa ini,” katanya.

Sementara itu, Zaenal alias Enal, sosok yang selama ini dikenal giat di urusan ekspedisi gunung dan Makassar Berkebun yang juga terlihat sibuk mondar-mandir di lokasi loading pinisi mengungkapkan perasaan terdalamnya.

“Perasaan saya seperti haru yang menderu, ingin seperti peluru untuk berbuat apa yang bisa saya buat. Semangat teman-teman dalam tim pun pantas untuk dipertahankan hingga misi dituntaskan,” katanya. Enal adalah volunteer dari Yayasan Makassar Skalia yang ikut membantu persiapan pengangkutan barang bantuan tujuan Palu dan Donggala.

Menurut Enal, misi ini tidak ringan dengan aktivitas bumi yang tidak stabil.

“Saya paham bahwa ada keresahan dari orang-orang terdekat. Tapi kita sama manusia sepantasnya untuk saling ulur tangan. Hari esok mungkin cerita akan berbeda, tapi sepanjang ada rasa untuk menguatkan itu ada, Tuhan akan selalu tersenyum bersama kita,” katanya.

Apa yang menjadi motivasi Enal ikut turun tangan? “Utamanya tidak lain adalah misi kemanusiaan. Selain itu, misi pembelajaran juga tidak luput perjalanan ini. Saya selalu yakin bahwa di setiap perjalanan selalu ada cara untuk belajar dan bersyukur,” pungkasnya.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *