Sejarah ‘Pergerakan Politis’ Mahasiswa dan Sarjana Kelautan Indonesia

Dr. A. Najid (foto: istimewa)

Kehadiran Menteri Susi Pudjiastuti di dua Kongres Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) dalam tahun 2015 dan 2018 bermakna bahwa Pemerintah melihat eksistensi strategis organisasi yang mewadahi tidak kurang 15 ribu alumni ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada tanggal 26 dan 27 Januari 2018, ISKINDO menyelenggarakan seminar dan Kongres II di Jakarta. Tema seminar adalah “Peran dan Dukungan ISKINDO Untuk Akselerasi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia”.

Meski baru berdiri sejak tahun 2015, namun keberadaan ISKINDO menjadi unsur penting dalam agenda Poros Maritim sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo sejak tahun 2014.

ISKINDO adalah wadah representasi alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan yang selama ini dikenal intens dalam memperjuangkan isu kelautan sebagai arus utama pembangunan nasional. Jumlah anggotanya, atau alumni yang diwadahinya tidak kurang 15 ribu orang dan tersebar dari ujung Sumatera hingga Papua, dari Kupang hingga Sulawesi Utara.

Jumlahnya yang besar dengan kapasitas yang disiapkan dari bangku akademik tentu akan sangat berguna bagi masa depan Kelautan Nasional.

Seperti apa motif dan bagaimana pergerakan mahasisa serta alumni Kelautan dari waktu ke waktu, tim media DPP ISKINDO mewawancarai Dr. Ahmad Najid, M.Si, Doktor Kelautan yang juga mengaku telah melayani 3 orang Menko Bidang Kemaritiman, dari periode Indroyono Soesilo, Rizal Ramli hingga Luhut B. Pandjaitan ini.

Dia adalah alumni S3 dan S2 di IPB Bogor, menyelesaikan S1 di Universitas Hang Tuah Surabaya. Sekolah Menengah Atas ditamatkannya di SMA Semen Gresik, dan lulus SMP di PP Tebuireng Jombang. Najid adalah juga salah satu Deklarator Iskindo & Himitekindo dan sekarang menjabat sebagai Ketua Iskindo DPW DKI Raya – Banten.

 

***

Apa yang menjadi spirit perjuangan kelautan menurut mahasiswa dan alumni Kelautan?

Spiritnya adalah pernyataan Ir. Joeanda pada tahun 1957, bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang mempunyai kedaulatan penuh atas daratan dan lautan. Itu kita bisa baca dari Deklarasi Djoeanda.

Lalu yang kedua adalah ujaran Ir. Soekarno pada tahun 1966. Soekarno mengobarkan jiwa patriotik bahari, sebuah ajakan bagi bangsa indonesia untuk menuju kejayaan negara bahari.

Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa kebesaran, kejayaan, kesentosaan dan kemakmuran hanya dapat dicapai apabila kita menguasai lautan.

Bagaimana manifestasinya setelah masa Soekarno?

Yah, di masa Presiden Soeharto, kita tahu sendiri bahwa sejak tahun 1985, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mulai merintis pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan di Indonesia.

Ini kita bisa lihat dengan digulirnya proyek Marine Science Education Project (MSEP) di 6 perguruan tinggi negeri, yaitu UNRI, IPB, UNDIP, UNHAS, UNSRAT, dan UNPATI sebuah upaya untuk pengembangan ilmu dan teknologi kelautan.

Upaya tersebut tidak berhenti sebab pada tahun 1994, di masa Menristek B.J Habibie perwakilan mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan mendeklarasikan Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan.

Kami menyebutnya Deklarasi Parepare, yaitu berhimpunnya mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan se-Indonesia dengan misi mendorong penguatan kelembagaan pendidikan “Fakultas Kelautan” di PTN/PTS serta pembentukan kelembagaan negara yaitu Departemen atau Kementerian di bidang Kelautan.

Komitmen kuat mahasiswa tersebut kemudian dibuktikan pada tahun 1999 ketika Presiden Gus Dur menawarkan paradigma baru dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya kelautan, yaitu berdiri Departemen Eksplorasi Laut (sekarang KKP).

Di mana posisi ISKINDO?

Apa yang diceritakan sebelumnya merupakan peta jalan perjuangan Kelautan, mahasiswa dan alumni. Pada tanggal 13 Maret 2014, alumni yang umumnya diwakili oleh mantan aktivis Himitekindo mendeklarasikan ‘Iskindo’, Ikatan Alumni dan Sarjana Kelautan Indonesia, di Kebun Sirih Jln. KH. Wahid Hasyim Jakarta.

Tanggal 9 Juli 2014 sebagian besar alumni ikut mendeklarasikan ‘Teluk Jakarta Jokowi-JK’ sebuah tekad untuk mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Harapannya adalah menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang maju, kuat, sejahtera, dan berdaulat. Sebuah upaya sekaligus semangat untuk menciptakan kesejahteraan, keadilan, dan kedamaian secara berkelanjutan bagi bangsa Indonesia, juga bagi seluruh bangsa di dunia.

Bisa diceritakan apa saja yang dilakukan ISKINDO setelah itu?

Saya masih ingat pada tanggal 12 September 2014, beberapa dari kami membuat pernyataan terbuka yang agak ‘politis’. Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (iskindo) dan Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan se-Indonesia memberikan masukan dan dukungan bagi Presiden dan Wapres terpilih hasil Pilpres 9 Juli 2014.

Konkretnya adalah melalui tim transisi pemerintahan Jokowi-JK, di Jakarta, para alumni, sarjana dan mahasiswa Iptek Kelautan se-Indonesia mengusulkan dibentuknya Kementerian Koordinator Bidang Maritim/ Tujuannya untuk memudahkan dan melancarkan tugas dan fungsi koordinasi dan sinkronisasi program antar kementerian atau lembaga yang menyelenggarakan urusan kelautan dan kemaritiman.

Termasuk di dalamnya merekomendasikan sekurangnya 5 kriteria pemilihan menteri kelautan/maritim di Pemerintahan Jokowi-JK. Ini dilanjutkan pada tanggal 13 Oktober 2014, Iskindo merekomendasikan dan mengusulkan seorang sosok menteri yang kami sebut sebagai Prof Birokrat. Prof Indroyono, salah satu putra terbaik Indonesia. Dia seorang profesor riset dan profesional di badan pangan dunia (FAO PBB).

Maka tanggal 27 Oktober 2014, Presiden Jokowi menunjuk profesional kaliber dunia, Prof.(Riset) Dr. Dwisuryo Indroyono Soesilo sebagai Menko Bidang Kemaritiman RI serta memilih Ibu Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.

Sebagai salah seorang insiator, apa sejatinya tujuan ISKINDO menurut Anda?

Pada saat kongres pertama, pada 8 Juni 2015 kita sudah tahu tujuan ISKINDO yaitu demi memantapkan silaturrahim, soliditas dan pergerakan alumni kelautan Indonesia demi percepatan mewujudkan poros maritim dunia.

Nah, tanggal 26-27 Januari 2018, kongres ke dua Iskindo digelar kembali di Jakarta. Saya menyebutnya sebagai pertemuan forum “pergerakan politis” untuk meluruskan kembali dan mengakselerasi kerja kerja mewujudkan kejayaan kelautan dan kemaritiman Indonesia sebagai Negara Poros Maritim dunia.

Dengan ISKINDO saya membayangkan kita akan semakin melesat jauh di lautan dengan Jet Foil 5G. Ini filosofi, bahwa kita alumni dan sarjana kelautan ditakdirkan sebagai “Pengawal Laut Nusantara”, dapat terbang di lautan dan melesat jauh melalui motto ‘Five G-JET Foil’.

Apa itu?

Yang pertama, Gesit Berpikir; kedua Gesit Berkarya, ketiga Gesit Bergerak, keempat Gesit Bergaul dan kelima Gesit Beramal dan Berdoa.

Kalau JET?

J itu bermakna Jelas, E sebagai Efektif dan T adalah Terukur.

Kalau Foil?

Kalau itu Forum Ilmiah keLautan. Paten, bukan?

(ISKINDO)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *