TANTANGAN PEMBANGUNAN KELAUTAN

Bumi sedang sakit parah akibat berbagai praktek dan eksploitasi sumberdaya kelautan secara serampangan. Pembangunan kelautan dihadapkan pada tantangan, persoalan, dan kompleksitas yang perlu dipahami dan diantisipasi dengan baik, diantaranya:

Ancaman bencana pangan global. Penduduk bumi bertumbuh cepat. Tahun 2050 penduduk bumi diperkirakan mencapai 9 milyar jiwa yang berimplikasi meningkatkan permintaan pangan global sekitar 70%. Kalau tidak diantisipasi dengan baik, akan menjadi bencana pangan global. Di sisi lain, peningkatan produksi pangan mengalami stagnasi bahkan kemunduran yang signifikan. Alih fungsi lahan pertanian menjadi hunian menjadi marak. Sumber perikanan dieksplotasi intensif, menyebabkan overfishing secara global. Ini menyebabkan berkurangnya jumlah pangan yang sekaligus memicu harga pangan global. krisis pangan merupakan ancaman yang nyata secara global, termasuk di Indonesia.

Perubahan iklim. Perubahan iklim global merupakan salah satu persoalan yang sangat penting untuk diantisipasi di kawasan pesisir dan laut. Perubahan iklim ini menyebabkan perubahan pola curah hujan, kenaikan temperatur air laut, kenaikan muka air laut, dan kejadian iklim ekstrim. Hasil kajian Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) pernah memprediksi bahwa tahun 2030+ sekitar 2000 pulau-pulau kecil Indonesia akan tenggelam akibat kenaikan muka air laut. Beberapa study lain dari berbagai lembaga juga menunjukkan ancaman tenggelamnya pulau-pulau kecil di dunia. Ini akan berimbas juga ke berbagai hal termasuk erosi dan berkurangnya lahan pesisir, kerusakan ekosistem, intrusi air laut dan pengurangan kualitas air dan menyebabkan kerentanan dan kerusakan bangunan-bangunan pantai.

Negara rawan bencana. Indonesia menghadapi berbagai ancaman bencana dalam berbagai skala termasuk gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan. Indonesia menempati urutan pertama dari 265 negara yang paling rentan tsunami, peringkat pertama dari 162 negara untuk longsor, dan pada posisi ke-3 dari 153 negara atas kasus dan berbagai dampaknya. salah satu penyebab tingginya kerawanan Indonesia terhadap bencana alam adalah karena wilayah Indonesia terletak di lempeng eurasia, lempeng indo-australia, dan lempeng pasifik. Indonesia juga merupakan jalur cincin api atau the pasicif ring of fire, yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia.

Kemiskinan pesisir. Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan bahwa terdapat sekitar 7,87 juta wilayah Indonesia. Nelayan miskin tersebut tersebar di 10.640 desa nelayan di pesisir. Jumlah nelayan miskin ini lebih dari 25% dari total penduduk Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan di Indonesia, berdasarkan data dari badan pusat statistik (BPS) tahun 2010. Jumlah ini juga memperlihatkan trend peningkatan penduduk miskin tidak kurang dari 4,7 juta jiwa dibandingkan pada tahun 2008. masyarakat pesisir miskin dan 2,2 juta jiwa penduduk pesisir sangat miskin di seluruh

Degradasi ekosistem. Akibat eksploitasi sumberdaya alam hayati dan non-hayati secara intensif dan serampangan, terjadi kerusakan massif dan penyusutan ekosistem pesisir dan laut, seperti terumbu karang, mangrove, padang lamun, dan sebagainya. Diperkirakan lebih dari 70% mangrove Indonesia telah mengalami kerusakan, sementara kondisi terumbu karang Indonesia yang sangat baik tinggal 6%. Pencemaran di lautan Indonesia tergolong sangat tinggi. Pencemaran berat terutama terjadi di kawasan laut sekitar dekat muara sungai dan kota-kota besar. Tingginya tingkat pencemaran laut ini telah menjadi ancaman serius bagi laut Indonesia dengan segala potensi dampaknya, dan hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini juga terkait dengan sampah/limbah ke laut. Indonesia digambarkan sebagai salah satu dari lima negara utama penyumbang sampah laut terbesar dunia.

Lemahnya pengelolaan pelabuhan dan logistik. Kondisi pelabuhan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. World economy forum melaporkan, kualitas pelabuhan Indonesia hanya mendapatkan nilai 3,6 atau peringkat 103 dari 142 negara. Dan dari 134 negara, menurut global competitiveness report 2010-2011, daya saing pelabuhan di Indonesia hanya berada di urutan ke-95. Akibat lemahnya pengelolaan pelabuhan dan sistem logistik, Indonesia mengalami potensi kerugian ekonomi yang sangat besar mengingat Indonesia merupakan salah satu lalu lintas tersibuk dunia. Lemahnya pengelolaan logistik juga memperdalam jurang kesenjangan kawasan timur dan barat Indonesia.

Illegal, Unreported, Unregulated (IUU) Fishing. Perairan Indonesia yang sangat kaya sumberdaya perikanan menjadi target-target bagi ribuan kapal setiap tahun untuk melakukan praktek kegiatan perikanan ilegal (illegal fishing). Kerugian ekonomi bagi Indonesia akibat kegiatan yang melibatkan tidak kurang dari 10 negara tetangga diperkirakan lebih dari Rp 100 trilyun setahun. Disamping praktek perikanan ilegal, ternyata praktek perizinan kapal ilegal (illegal licensing) juga sangat marak di Indonesia. Praktek illegal license tersebut dilakukan terhadap ribuan kapal yang melakukan aktivitas di laut Indonesia, seperti laut arafura, laut aru, laut banda dan lain-lain. Praktek perikanan merusak (destructive fishing) menggunakan bom, bius, trawl juga semakin marak. Berbagai aktifitas tersebut menyebabkan kerugian ekonomi, sosial, maupun ekologis yang sangat besar.